Yesus di Bukit Golgota
Yesus Jatuh Keenam dan Ketujuh Kali

Arak-arakan bergerak maju kembali. Jalanan sangat curam dan tidak rata antara tembok-tembok kota dan Kalvari. Yesus amat bersusah-payah berjalan dengan beban berat di pundak-Nya; namun demikian, para musuh-Nya yang keji, jauh dari rasa iba sedikit pun atau berusaha meringankan sengsara-Nya, malahan terus-menerus mendesak-Nya maju dengan cara mendaratkan pukulan-pukulan dahsyat ke tubuh-Nya seraya melontarkan kata-kata kutuk yang mengerikan. Akhirnya, mereka tiba di suatu tempat di mana jalanan menikung tajam ke selatan; di sini Yesus tersandung dan jatuh untuk keenam kalinya. Jatuhnya sungguh parah, tetapi para pengawal terlebih lagi menghajar-Nya guna memaksa-Nya bangkit berdiri. Segera sesudah Ia tiba di Kalvari, Yesus jatuh terkapar lagi untuk ketujuh kalinya.

Simon dari Kirene diliputi rasa dongkol terhadap sikap para prajurit pembantu sekaligus belas kasihan terhadap Yesus. Tanpa menghiraukan tubuhnya sendiri yang lelah letih, ia mohon diijinkan tinggal agar dapat membantu Yesus; tetapi para prajurit pembantu memakinya lalu mengusirnya pergi. Segera Simon bergabung dengan kelompok para murid. Kemudian para algojo memerintahkan agar para pekerja dan anak-anak lelaki yang membawa peralatan eksekusi supaya segera pergi. Kaum Farisi segera datang dengan menunggang kuda; mereka mengambil jalan yang baik dan halus yang menuju sisi timur Kalvari. Dari puncak Kalvari terlihat pemandangan yang indah atas seluruh kota Yerusalem. Puncak Kalvari bentuknya melingkar, kurang lebih seluas sekolah menunggang kuda; sekelilingnya dibentengi tembok yang rendah dengan lima pintu masuk yang terpisah. Tampaknya lima merupakan angka yang umum di daerah itu; ada lima jalan di kolam pembasuhan, di tempat di mana mereka dibaptis, di Kolam Betsaida, dan juga ada banyak kota memiliki lima pintu gerbang. Kekhasan ini, sama seperti banyak kekhasan lainnya di Tanah Suci, mengandung suatu makna nubuat yang kental; yaitu bahwa angka lima; yang begitu sering muncul, melambangkan lima luka-luka Juruselamat kita yang kudus, yang akan membukakan bagi kita pintu gerbang surga.

Para prajurit berkuda berhenti di sisi barat bukit, di mana lereng bukit tidak terlalu curam. Sisi sebelah atas, di mana para tawanan dibawa, permukaannya curam dan tidak rata. Sekitar seratus prajurit disiagakan di bagian-bagian bukit yang berbeda, dan karena mereka memerlukan tempat yang agak luas, para penyamun tidak digiring naik ke atas, melainkan diperintahkan untuk berhenti dan berbaring di tanah dengan kedua tangan mereka terikat pada salib. Para prajurit berdiri sekelilingnya dan menjaga mereka. Kerumunan orang banyak yang tidak takut mencemarkan diri, berdiri dekat puncak atau tempat-tempat sekitar yang permukaannya tinggi; sebagian besar mereka berasal dari kalangan kelas bawah - orang-orang asing, para hamba dan orang-orang kafir; sejumlah dari mereka adalah perempuan.

Kira-kira pukul duabelas kurang seperempat ketika Yesus, dengan salib di pundak-Nya, jatuh terkapar tepat di tempat di mana Ia akan disalibkan. Para algojo yang tak berperikemanusiaan menyeret Yesus ke atas menggunakan tali-temali yang mereka ikatkan sekeliling pinggang-Nya, lalu mereka melepaskan ikatan lengan salib dan melemparkan palang itu ke atas tanah. Pemandangan akan Tuhan kita pada saat ini, sungguh mengenaskan, hingga mampu menggerakkan hati yang paling keras sekalipun untuk berbelas kasihan. Yesus berdiri, atau tepatnya membongkok, dekat salib, nyaris tak mampu menopang DiriNya Sendiri; wajah surgawi-Nya pucat pasi bagaikan seorang di ujung maut, meskipun segala luka-luka dan darah yang mengental membuat-Nya sulit dikenali hingga tampak mengerikan. Namun demikian, sungguh sayang! hati orang-orang keji ini bahkan lebih keras daripada baja, dan tanpa rasa iba sedikit pun, mereka menghempaskan-Nya dengan bengis ke tanah, seraya berseru dengan nada mengejek, “Raja yang Mahakuasa, kami hendak mempersiapkan tahta bagi baginda.” Yesus segera menempatkan DiriNya di atas salib; mereka mengukur serta menandai tempat-tempat untuk kedua tangan dan kaki-Nya, sementara kaum Farisi tak henti-hentinya mencemooh Kurban mereka yang tiada melawan. Ketika segala pengukuran telah selesai, mereka menggiring Yesus ke sebuah gua yang terdapat dalam bukit karang, yang dulunya biasa dipergunakan sebagai tempat penyimpanan. Mereka membuka pintunya, mendorong-Nya masuk begitu hebat hingga jika bukan karena pertolongan para malaikat, pastilah kedua kaki-Nya telah patah karena jatuh demikian dahsyat ke atas lantai batu yang kasar. Dengan jelas aku mendengar Yesus mengerang kesakitan, tetapi mereka segera menutup pintunya dan menempatkan penjaga-penjaga di depannya, sementara para prajurit pembantu melanjutkan persiapan mereka untuk penyaliban.

Bagian tengah puncak bukit merupakan bagian yang paling tinggi di Kalvari - merupakan suatu puncak yang bundar, tingginya sekitar dua kaki; orang harus mendaki dua atau tiga langkah untuk mencapai puncaknya. Para algojo menggali lubang-lubang untuk ketiga salib di puncak bukit ini. Lubang yang diperuntukkan bagi kedua penyamun dibuat satu di sebelah kanan, dan satu di sebelah kiri lubang yang diperuntukkan bagi salib Tuhan kita; kedua lubang itu lebih rendah dan lebih kasar buatannya daripada lubang salib Yesus. Lalu mereka menggotong salib Juruselamat kita ke tempat di mana Ia hendak disalibkan dan menempatkannya dengan posisi begitu rupa hingga salib dapat dengan mudah jatuh masuk ke dalam lubang yang telah dipersiapkan. Mereka mengikatkan lengan salib erat-erat ke badan salib, memakukan papan di bagian bawah yang dimaksudkan sebagai tumpuan kaki, membuat lubang-lubang untuk paku, serta membuat lekukan-lekukan di badan salib di bagian-bagian yang akan menyangga kepala dan punggung Tuhan kita, agar tubuh-Nya dapat menempel pada salib, dan bukannya menggantung. Tujuan mereka adalah memperpanjang penyiksaan, sebab jika berat seluruh tubuh-Nya dibiarkan bertumpu pada kedua tangan-Nya, maka kedua tangan-Nya akan terkoyak parah dan kematian akan datang lebih cepat dari yang mereka harapkan. Para algojo lalu memancangkan potongan-potongan kayu ke tanah agar salib dapat berdiri tegak, dan mereka melakukan persiapan-persiapan lainnya yang serupa.

About this entry

Poskan Komentar

 

About me | Author Contact | Powered By holy of christ | © Copyright  2008