RENUNGAN BULAN AGUSTUS 2008

Jumat, 01 Agustus 2008

Mazmur 39

UCAPAN KONYOL

Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi (Mazmur 39:14)

Ketika mantan dosen hukum Phillip E. Johnson terkena serangan stroke, ia sangat takut kalau-kalau ia akan mengalami cacat mental dan fisik sehingga ia meminta dokter untuk membunuhnya tanpa rasa sakit. Ia berkata demikian, “Ini memang pikiran yang bodoh, tetapi bukan yang paling bodoh.”

Dalam pelayanan pastoral saya sendiri, pernah mendengar beberapa anak Allah mengungkapkan pemikiran yang jauh lebih buruk daripada pemikiran Johnson. Bahkan mereka melontarkan kata-kata yang berisi pemberontakan melawan Allah.

Mazmur 39 menawarkan penghiburan kepada orang yang menyesali hal-hal bodoh yang telah mereka katakan sewaktu mengalami keputusasaan. Daud sakit parah dan merasa putus asa pada saat ia menulis mazmur ini. Pada awalnya ia diam supaya tidak mengatakan hal yang bodoh (ayat 2-4). Tetapi ketika ia tidak bisa menahan diri lagi, ia kemudian menyerukan doa yang sangat indah (ayat 5-10).

Namun, dalam ayat 11 dan 12 suasananya kemudian mulai berubah. Menurut ilmuwan Inggris Derek Kidner, Daud berkata bodoh ketika ia berkata, “Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, … sebelum aku pergi dan tidak ada lagi” (ayat 14). Daud mengungkapkan sikap putus asa sampai ingin mati, dan akhirnya berseru kepada Allah, “Biarkan saya sendiri.” Kidner berpendapat bahwa Allah mencantumkan doa ini di dalam Alkitab untuk meyakinkan bahwa ketika kita menyatakan keputusasaan kita, Dia mengerti, dan ketika kita mengungkapkan penyesalan yang mendalam, dengan murah hati Dia memberikan pengampunan - HL

LIDAH BISA MENJADI MUSUH YANG PALING JAHAT

Sabtu, 02 Agustus 2008

2Petrus 3:10-18

WASPADALAH!

Waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh

(2 Petrus 3:17)

Kehidupan sehari-hari dapat membahayakan kesehatan Anda. Demikian tesis buku Laura Lee 100 Most Dangerous Things In Everyday Life And What You Can Do About Them. Ini merupakan sindiran terhadap hal-hal yang membahayakan dalam hidup yang kurang disadari banyak orang, seperti kereta belanja (yang setiap tahunnya menyebabkan 27.600 kasus cedera di AS) serta mesin pencuci piring (yang membahayakan lebih dari 7.000 warga Amerika dan 1.300 warga Inggris setiap tahunnya). Salah satu alasan yang dikemukakan penulis dalam menyusun buku ini adalah “untuk mengolok-olok budaya takut”.

Sebaliknya, Yesus Kristus memanggil para pengikut-Nya untuk hidup dengan penuh keberanian dalam iman. Di situ tujuan kita tidak untuk menghindari bahaya, tetapi untuk menggenapi misi Allah dalam hidup kita di dunia.

Rasul Petrus dengan jelas menggambarkan hari Tuhan, yang merupakan akhir dari dunia, seperti yang kita ketahui (2 Petrus 3:10). Tetapi bukannya dilemahkan oleh kecemasan, Petrus justru mengajak kita untuk melakukan persiapan sebaik-baiknya (ayat 14). Kemudian ia memperingatkan akan adanya orang yang memutarbalikkan Kitab Suci, katanya, “Waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh” (ayat 17).

Kecemasan dengan kadar yang tepat akan membantu melindungi kita, tetapi kalau berlebihan justru dapat membuat kita tidak berdaya. Yang paling harus kita takutkan adalah jika kita tidak dapat memercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah – DC

KEKUATAN KRISTUS DI DALAM DIRI ANDA JAUH LEBIH BESAR

DARIPADA KEKUATAN JAHAT DI SEKITAR ANDA

Minggu, 03 Agustus 2008

Kejadian 50:15-21

SENGAJA

Segala sesuatu … mendatangkan kebaikan … bagi mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah

(Roma 8:28)

Ketika seorang koboi mendaftar untuk sebuah polis asuransi, sang agen asuransi bertanya kepadanya, “Apakah Anda pernah mengalami kecelakaan?” Setelah merenung beberapa saat, ia kemudian menjawab, “Belum, tetapi pada musim panas yang lalu seekor kuda liar menyepak dan mematahkan dua rusuk saya, dan beberapa tahun yang lalu seekor ular menggigit pergelangan kaki saya.”

“Bukankah itu namanya kecelakaan?” sahut sang agen dengan keheranan. “Bukan,” jawab si koboi, “kedua binatang tersebut melakukannya dengan sengaja!”

Kisah ini mengingatkan saya akan kebenaran Alkitab bahwa tidak ada kecelakaan di dalam kehidupan anak-anak Allah. Dalam bacaan Kitab Suci pada hari ini, kita membaca bagaimana Yusuf memahami suatu pengalaman sulit yang tampaknya seperti bencana besar. Ia dilemparkan ke sumur, kemudian dijual sebagai budak. Ini merupakan ujian yang berat bagi imannya, dan apabila dilihat dari kacamata manusiawi, maka hal ini merupakan kasus ketidakadilan yang tragis, bukan sarana rahmat ilahi. Tetapi, di kemudian hari Yusuf akhirnya mengerti bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kejadian 50:20).

Apakah Anda saat ini sedang melalui badai pencobaan dan kekecewaan? Apakah segala sesuatu sepertinya sedang melawan Anda? Semua kemalangan itu bukanlah kecelakaan. Tuhan mengizinkan hal-hal demikian untuk suatu tujuan yang mulia. Karena itu, percayalah kepada-Nya dengan sabar. Jika Anda betul-betul mengenal Tuhan, suatu hari nanti Anda akan memuji-Nya karena semuanya itu! - RW

ALLAH MENGUBAH PENCOBAAN MENJADI KEMENANGAN

Senin, 04 Agustus 2008

1Korintus 12:4-11

APA GUNA POHON KARET?

Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan

(1 Korintus 12:4,5)

Dalam salah satu penjelajahannya menuju Dunia Baru, Christopher Columbus menemukan sebuah pohon yang sangat aneh. Pohon ini memiliki buah bulat yang membal seperti bola. Nama Indiannya adalah caoutchouc-”kayu yang menangis”.

Pohon ini diberi nama demikian karena mengeluarkan getah yang menyerupai air mata. Akhirnya, para penemu pohon tersebut menemukan bahwa getah ini bisa dipanen dan dibiarkan mengeras untuk menghapus (rub out) tulisan pensil. Dari sinilah didapatkan nama “rubber” [karet].

Pada tahun 1830-an ditemukan bahwa karet tahan terhadap suhu yang sangat rendah apabila kandungan belerangnya dibersihkan. Oleh karena itu, ketika mobil ditemukan, permintaan karet menjadi tinggi. Di kemudian hari ditemukan bahwa getah pohon karet ini dapat digunakan untuk membuat sarung tangan bedah bagi para dokter. Ada begitu banyak kegunaan dari pohon karet yang masih harus ditemukan.

Demikian pula halnya ketika kita merenungkan karunia rohani yang diajarkan di dalam Alkitab, kita barangkali akan menemukan bahwa kita memiliki lebih dari satu karunia. Jika kita memulai jenis pelayanan yang baru, barangkali kita akan dapat menemukan bahwa kita memiliki kemampuan lain yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Apa pun karunia rohani Anda, semuanya itu berasal dari Tuhan (1 Korintus 12:4-6). Pelayanan baru apa yang ingin Anda coba? Anda mungkin akan menemukan karunia rohani baru yang tidak pernah Anda ketahui sebelumnya - HD

TEMUKAN KARUNIA ROHANI ANDA

DENGAN MENGGUNAKAN TALENTA YANG SUDAH DIBERIKAN ALLAH

Selasa, 05 Agustus 2008

Matius 19:1-8

KEAJAIBAN HIDUP PERNIKAHAN

Adam berkata, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”

(Kejadian 2:23)

Ketika Pendeta Howard Sugden memimpin upacara pernikahan kami, ia menekankan bahwa kami sedang terlibat dalam sebuah mukjizat. Kami memercayainya, tetapi kami tidak memahami seberapa besar mukjizat yang diperlukan untuk mengikat dua orang, apalagi menjadikan keduanya satu.

Setelah 20 tahun, saya sadar bahwa kehidupan pernikahan, bukan upacara pernikahan, adalah mukjizat sejati. Setiap orang bisa menikah, tetapi hanya Allah yang bisa menciptakan sebuah kehidupan pernikahan yang sejati.

Sebuah definisi menikah adalah “membangun keterikatan dengan setia atau keras kepala”. Bagi beberapa pasangan, istilah “keras kepala” lebih tepat menggambarkan keterikatan mereka daripada istilah “setia”.

Allah memiliki definisi yang jauh lebih baik bagi kita mengenai pernikahan daripada mendefinisikannya sebagai keterikatan yang terus-menerus diusahakan agar tidak terjadi perceraian. Kesatuan dalam pernikahan itu begitu kuat sehingga kita menjadi “satu daging”. Allah menginginkan hidup pernikahan berlangsung seperti ketika Dia menciptakan Hawa dari Adam pertama kali (Kejadian 2:21-24). Itulah penjelasan Yesus kepada orang-orang Farisi ketika mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Matius 19:3). Yesus menjawab, “Sebab itu laki-laki akan … bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (ayat 5).

Menyerahkan hidup Anda kepada orang lain adalah tindakan iman yang benar-benar memercayai mukjizat. Puji syukur, Allah campur tangan dalam menciptakan kehidupan pernikahan - J

KEHIDUPAN PERNIKAHAN YANG BAHAGIA

ADALAH BERSATUNYA DUA PENGAMPUN YANG BAIK

Rabu, 06 Agustus 2008

2Korintus 12:1-10

ORANG LEMAH TERKUAT

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku

(2 Korintus 12:9)

Apabila ada hal lain yang ingin kita benci melebihi kebencian kita terhadap kesombongan orang lain, maka hal itu pastilah kesadaran terhadap kelemahan diri kita sendiri. Kita sangat membencinya sehingga kita mencari-cari cara untuk menutupi kekurangan pribadi kita.

Bahkan Rasul Paulus pun perlu diingatkan mengenai kelemahannya sendiri. Ia berulang kali ditusuk oleh suatu “duri dalam daging” (2 Korintus 12:7). Ia tidak mengatakan duri apa sebenarnya yang menusuk-nusuknya itu, tetapi penulis J. Oswald Sanders mengingatkan kita bahwa “duri tersebut melukai, merendahkan, dan membatasi Paulus”. Sebenarnya ia sudah tiga kali meminta Tuhan untuk mengambil duri tersebut, tetapi permohonannya tidak dikabulkan. Ia kemudian justru menggunakan duri itu untuk bernaung pada kasih karunia Allah. Tuhan berjanji, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (ayat 9).

Selanjutnya dengan berani, Paulus mulai “merangkul” kelemahannya dan menguji kasih karunia Tuhan. Itu merupakan sebuah jalan yang disebut Sanders “proses belajar secara bertahap” dalam kehidupan sang rasul. Sanders mencatat bahwa akhirnya Rasul Paulus tidak lagi menganggap durinya sebagai “kekurangan yang membatasi”, tetapi menganggapnya sebagai “keuntungan Ilahi”. Dan keuntungannya adalah: Ketika dirinya merasa lemah, ia justru kuat di dalam Tuhan.

Ketika kita menerima kelemahan kita, kita bisa menjadi orang lemah yang kuat dalam Kristus - J

KEKUATAN ALLAH TERLIHAT PALING JELAS

DALAM KELEMAHAN KITA

Kamis, 07 Agustus 2008

Lukas 10:29-37

SESAMA-SESAMA BARU

“Dan siapakah sesamaku manusia?” (Lukas 10:29)

Pada tanggal 26 Desember 2004, banyak orang tiba-tiba menjadi sesama baru kita. Mereka hanya memiliki kehidupan yang hancur setelah tsunami dahsyat menyapu 12 negara Asia, menewaskan puluhan ribu sahabat, kerabat, dan teman sebangsa mereka. Jutaan orang yang selamat mengalami kekurangan. Namun, bagaimana mereka bisa menjadi sesama kita?

Menurut perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati dalam Lukas 10, sesama adalah orang yang menunjukkan belas kasihan kepada orang yang memerlukan. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ayat 29). Yesus bercerita kepadanya tentang orang yang sedang bepergian dan terluka karena diserang kawanan penyamun. Imam dan orang Lewi tidak memedulikannya. Tetapi ia lalu ditolong orang Samaria. Kemudian Dia bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Ahli Taurat itu menjawab dengan tepat, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya” (ayat 36,37).

Orang-orang kekurangan yang kita jumpai adalah sesama baru kita, dan kita harus menjadi sesama yang membantu mereka. Kita sering berpikir bahwa sesama kita adalah orang yang terhubung dengan kita secara geografis. Tetapi Yesus menyatakan kita harus menganggap siapa pun yang kekurangan sebagai sesama, siapa pun mereka dan di mana mereka tinggal.

Lihat sekitar Anda. Ada orang yang memerlukan bantuan, belas kasih, dan kasih Anda. Merekalah sesama baru Anda - JB

LATIHAN YANG BAIK UNTUK HATI:

MENJANGKAU DAN MENOLONG SESAMA ANDA

Jumat, 08 Agustus 2008

Mazmur 18:2-4

TUHAN, BUKIT BATUKU

Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku,

tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!

(Mazmur 18:3)

Ternyata kita, manusia, melakukan penalaran terutama berdasarkan hati, dan bukan berdasarkan pikiran. Seorang matematikawan dan ahli teologi Perancis, Blaise Pascal, dahulu berkata, “Hati mempunyai kemampuan berpikir yang tidak diketahui oleh pikiran.”

Para penyair, penyanyi, pengarang cerita, dan seniman sejak dulu mengetahui hal ini. Mereka menggunakan berbagai simbol dan perumpamaan yang lebih berbicara kepada hati daripada kepada pikiran kita. Karena itulah gagasan-gagasan mereka menembus ke tempat yang tidak dapat dicapai oleh gagasan lainnya. Dan karena itulah kita berkata, “Sebuah gambar berharga seribu kata.” Gambaran tetap tinggal di pikiran kita saat semua hal-lain telah terlupakan.

Daud menulis, “Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku, … perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3). Pada saat itu ia memikirkan unsur-unsur fisik yang mencerminkan kenyataan rohani. Setiap gambar dalam pernyataan itu mengekspresikan pemikiran yang lebih dalam, menghubungkan dunia nyata dengan alam maya Roh. Daud tidak melantur pada definisi dan penjelasan, karena penjelasan dapat mengaburkan imajinasi. Setiap gambar tetap tinggal dalam pikiran kita. Itu adalah gambar-gambar yang membangkitkan misteri, menggugah imajinasi, dan memperdalam pengertian kita.

Daud membangunkan sesuatu yang tersembunyi di dalam diri kita. Memikirkan sesuatu secara mendalam adalah hal yang baik. Lalu apakah arti kalimat Allah adalah bukit batuku, kubu pertahananku, perisaiku bagi Anda? – DR

IMAN MENJEMBATANI JURANG

YANG KEDALAMANNYA TIDAK DAPAT DIUKUR NALAR

Sabtu, 09 Agustus 2008

Yohanes 14:1-6

KEMBALI KEPADAMU

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu

(Yohanes 14:18)

Tahun 1914 Ernest Shackleton memimpin ekspedisi pelayaran ke Antartika, dilanjutkan berjalan ke Kutub Selatan. Ekspedisi itu berjalan sesuai rencana sampai kapal itu terjebak es dan lambung kapal itu hancur. Para awak kapal berhasil mencapai pulau kecil dengan perahu penolong. Setelah berjanji akan datang kembali, Shackleton dan rombongan kecil penyelamat berangkat melintasi 1.280 kilometer lautan berbahaya ke Pulau South Georgia.

Berbekal sekstan [alat pengukur sudut astronomis untuk menentukan posisi kapal di laut] sebagai pemandu, mereka berhasil mencapai pulau itu. Shackleton lalu memimpin rombongannya melintasi medan berbukit curam menuju pelabuhan kapal penangkap ikan paus di sisi lain pulau itu. Di sana, ia mendapatkan kapal untuk menyelamatkan awak kapalnya. Sang pemimpin memegang perkataannya dan kembali menjemput mereka. Tak ada seorang pun yang tertinggal.

Ketika Yesus hendak meninggalkan para murid-Nya, Dia berjanji akan kembali. Dia berkata, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yohanes 14:3). Setelah menanggung sengsara salib, Yesus bangkit dari maut untuk memberi hidup kekal kepada tiap orang yang memercayai-Nya sebagai Juru Selamat. Kini Dia tinggal di dalam kita oleh Roh Kudus, tetapi kelak Dia akan kembali dan mengumpulkan kita dalam hadirat-Nya (1 Tesalonika 4:15-18). Ucapan Yesus dapat dipercaya. - Jika Anda milik-Nya, Dia akan kembali untuk Anda! - HF

KEDATANGAN KRISTUS YANG KEDUA

SEPASTI KEDATANGAN-NYA YANG PERTAMA

Minggu, 10 Agustus 2008

Kejadian 24:12-21

SIAPA YANG CANTIK?

Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji (Amsal 31:30)

Dalam bukunya Who Calls Me Beautiful? (Siapa yang Menyebutku Cantik?), Regina Franklin meneliti bahwa pada tahun 1951 tinggi badan Putri Swedia adalah 167,5 sentimeter dan berbobot 67,95 kilogram. Namun, Putri Swedia tahun 1983, 5 sentimeter lebih tinggi dan 20,25 kilogram lebih ringan. Syarat kecantikan untuk satu generasi tampaknya tidak dapat dipakai sebagai ukuran untuk generasi berikutnya.

Dalam Kejadian 24:16, dikatakan bahwa Ribka “sangat cantik parasnya”. Tetapi kecantikan fisik bukanlah tanda yang penting bagi Eliezer, hamba Abraham yang diutus untuk mendapatkan seorang istri bagi Ishak.

Doa Eliezer memberikan kepada kita petunjuk penting tentang kecantikan yang ia cari bagi anak tuannya: “Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum-dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak” (ayat 14).

Sopan santun yang wajar mungkin telah mendorong Ribka untuk menyediakan air minum bagi orang asing, tetapi memberi minum unta adalah hal yang benar-benar berbeda. Sepuluh unta yang kehausan bisa minum sampai 798 liter. Jelas sekali, Ribka memiliki hati seorang hamba.

Alkitab mengatakan bahwa Ribka adalah gadis yang cantik. Akan tetapi Alkitab juga mengatakan lebih banyak lagi mengenai kecantikan karakternya. “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji” (Amsal 31:30) - AL

TIDAK ADA YANG DAPAT MENGABURKAN

KECANTIKAN YANG BERSINAR DARI DALAM HATI

Senin, 11 Agustus 2008

Keluaran 12:29-42

DEWA DARI EMAS

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3)

Allah telah menarik perhatian Firaun dan orang-orang Mesir dengan serangkaian bencana. Kini mereka berusaha keras untuk mengenyahkan budak-budak Ibrani mereka. Tetapi Allah tidak ingin orang-orang Israel meninggalkan Mesir dengan tangan hampa. Lagi pula, ada upah selama 400 tahun yang harus dibayarkan kepada mereka. Maka mereka meminta barang-barang dari perak, emas dan pakaian dari mantan tuan mereka dan mereka mendapatkan semua itu. Keluaran 12:36 mengatakan bahwa orang-orang Israel “merampasi orang Mesir itu”.

Namun, tidak lama kemudian umat Allah jatuh dalam penyembahan berhala. Mereka menggunakan emas milik mereka untuk membuat anak lembu emas. Mereka menyembahnya sewaktu Musa sedang berada di Gunung Sinai menerima hukum Allah (32:1-4).

Pengalaman tragis orang-orang Israel ini menyoroti hal yang harus diperhatikan oleh orang-orang kristiani mengenai harta milik mereka. Ada banyak hal di dalam masyarakat yang dapat kita nikmati, tetapi benda-benda materi juga membawa bahaya yang mematikan apabila kita gunakan tanpa berpikir panjang. Os Guinness berkata bahwa kita “bebas menggunakannya”, tetapi kita “jangan menjadikannya berhala”. Kita adalah “orang asing dan pendatang” (Ibrani 11: 13), dan kita jangan sampai begitu mencintai “kekayaan Mesir” sehingga kita merasa puas dan melupakan panggilan sejati kita.

Apakah kita telah menggunakan berkat-berkat materi kita untuk melayani Tuhan? Atau apakah kita telah menjadi budak mereka? - HR

EMAS DAPAT MENJADI HAMBA YANG BERGUNA

TETAPI DAPAT JUGA MENJADI TUAN YANG JAHAT

Selasa, 12 Agustus 2008

Hosea 11:1-12:1

KASIH BAPA KITA

Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih

(Hosea 11:4)

Seorang ayah kristiani yang masih muda menjalankan perannya sebagai orangtua secara serius. Ketika putranya masih bayi, ia melindunginya. Saat putranya itu semakin besar, sang ayah bermain bola dengannya, memberikan dorongan, dan berusaha mengajarkan tentang Allah dan kehidupan kepadanya. Tetapi ketika remaja, anak laki-laki itu membuat jarak dan dengan cepat meninggalkannya untuk menikmati kebebasan.

Seperti anak yang hilang dalam Lukas 15, ia menolak nilai-nilai yang diajarkan ayahnya. Ia membuat keputusan bodoh dan terlibat dalam masalah. Ayahnya sangat kecewa, tetapi selalu sabar terhadapnya. “Tak peduli apa pun yang telah ia lakukan,” katanya, “ia tetap anak saya. Saya tidak akan pernah berhenti mengasihinya. Ia akan selalu diterima di rumah saya.” Hari penuh sukacita itu akhirnya tiba ketika ayah dan anak dipersatukan kembali.

Orang-orang pada zaman Hosea mengikuti pola yang serupa. Meskipun Allah telah menyelamatkan mereka dari Mesir dan memelihara mereka, mereka menolak-Nya. Mereka menghina nama-Nya dengan menyembah ilah-ilah orang Kanaan. Akan tetapi Allah tetap mengasihi mereka dan merindukan mereka untuk kembali (Hosea 11:8).

Apakah Anda merasa takut telah menyimpang terlalu jauh dari Allah untuk dapat dipulihkan? Dia yang menyelamatkan dan memelihara Anda rindu agar Anda kembali. Tangan-Nya terbuka dalam pengampunan dan penerimaan. Dia tidak akan pernah membuang Anda.

Betapa kita gembira atas kasih Bapa! - DC

KASIH ALLAH TIDAK ADA BATASNYA

Rabu, 13 Agustus 2008

Kisah 13:36-41

MASA LALU TELAH LAMA HILANG

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus

(Roma 8:1)

Menurut penulis novel asal Inggris, Aldous Huxley, “Tidak ada langkah mundur pada papan catur kehidupan.” Namun kita tetap menyadari akan hal-hal yang telah kita lakukan dan hal-hal yang kita biarkan terbengkalai. Dosa-dosa kita membuat kita cemas. Dosa-dosa itu mendorong kita untuk sangat berharap dapat memperbaiki masa lalu.

Karena itulah, mereka yang menaruh iman di dalam Yesus dapat mengucap syukur atas pesan Allah, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Ketika Paulus berkhotbah di Antiokhia, ia berkata, “Dan di dalam Dialah [Yesus] setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa” (Kisah Para Rasul 13:39). Hukum itu mendatangkan kematian bagi kita (Roma 7:10,11), tetapi Yesus menawarkan kelepasan dan kehidupan baru (8:1).

Apakah Anda mencemaskan sesuatu yang telah Anda lakukan di masa lalu? Bersukacitalah! Allah telah “melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut” (Mikha 7:19). Apakah Anda masih khawatir dengan dosa-dosa Anda? Bersukacitalah! “… Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka” (Ibrani 10:17). Dan “Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup …” (Yesaya 44:22).

Jika Anda beriman dan memohon kepada-Nya untuk mengampuni Anda, masa lalu Anda benar-benar dilupakan. “Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Maz 103:12). Percaya dan bersukacitalah! - VG

PENGAMPUNAN ALLAH

MELEPASKAN KITA DARI BELENGGU KEKECEWAAN

Kamis, 14 Agustus 2008

Mazmur 90

FOKUS YANG BENAR

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana

(Mazmur 90:12)

Kita menyebut tahun-tahun akhir hidup seseorang sebagai “usia senja”. Tetapi apakah masa itu benar-benar indah? Bagi sebagian orang, masa tua memang indah. Tetapi bagi banyak orang, bahkan bagi orang kristiani, usia senja mungkin penuh dengan kepahitan dan keputusasaan.

Untuk meminimalkan hal tersebut, kita harus menetapkan tujuan untuk memperoleh fokus yang benar sejak masih muda. Robert Kastenbaum memahami hal ini. Ia menulis, “Saya merasa semakin bertanggung jawab atas masa depan saya dan atas semua orang yang hadir dalam hidup saya. Jika diberi kesempatan hidup sampai tua, saya akan menjadi orang tua seperti apa? Jawaban pertanyaan itu sangat tergantung pada pribadi seperti apa saya saat ini.”

Ketika memerhatikan orang-orang tua yang merasa puas, saya mendapati bahwa fokus kitalah, bukannya perasaan kita, yang lebih menentukan orang macam apa kita kelak. Saya pernah mengunjungi wanita saleh berusia sembilan puluhan yang merasa setiap sendi dan bagian tubuhnya sudah renta. “Usia tua bukan untuk pengecut!” rintihnya jujur. Seperti biasa, rintihannya justru menjadi jalan untuk memuji kebaikan Allah. Fokus untuk mengucap syukur yang dimulai sejak masih muda, membelah awan dan memungkinkan sinar matahari menembusnya.

Entah bagaimana perasaan Anda, apa yang menjadi fokus Anda hari ini? Apakah itu salah satu ucapan syukur kepada Yesus dan anugerah kehidupan kekal yang diberikan-Nya? Jika demikian, Anda akan bertumbuh lebih menyenangkan seiring bertambahnya usia - J

MENJADI PRIBADI SEPERTI APA ANDA KELAK

TERGANTUNG PADA PILIHAN-PILIHAN YANG ANDA AMBIL HARI INI

Jumat, 15 Agustus 2008

Yakobus 3:13-18

BERBICARA DAN BERTINDAK

… hikmat yang dari atas ... tidak munafik (Yakobus 3:17)

Dalam permainan drama Yunani kuno, ada seseorang di belakang layar yang mengucapkan naskah. Sementara itu, ada pula orang di atas panggung yang melakonkannya. Kita dapat menyebut orang yang berbicara di belakang layar ini sebagai orang yang tidak “melakukan apa yang dikatakannya”.

Orang yang berada di belakang layar ini mengingatkan saya pada masalah yang kini kita alami sebagai orang kristiani. Banyak di antara kita yang mahir dalam menyuarakan hal-hal rohani, tetapi tidak menjalankan apa yang dikatakannya itu. Hal seperti inilah yang disebut munafik.

Apabila ada ketidakcocokan antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan, maka kita akan membuat bingung para “pendengar”. Itulah yang menyebabkan banyak orang yang belum percaya tidak menanggapi pesan Injil secara serius.

Seorang kristiani yang memberi dampak besar terhadap dunia yang selalu mengamati kita ini, dan yang memperluas tujuan Kristus, adalah orang yang tindakannya sejalan dengan perkataannya. Ketika Yakobus berbicara tentang “hikmat yang dari atas”, ia menjelaskan hikmat itu sebagai hal yang “murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (Yakobus 3:17).

Sebagai orang kristiani, peran kita sangat berbeda dengan para aktor Yunani kuno. Mereka mempunyai pembicara yang tidak bertindak, dan pelaku yang tidak berbicara. Akan tetapi kita seharusnya menjadi orang yang mengatakan sekaligus melakukan kebenaran - RW

APABILA KATA-KATA DAN TINDAKAN BERJALAN SEIRING

PESAN YANG DISAMPAIKAN AKAN MENJADI NYARING DAN JELAS

Sabtu, 16 Agustus 2008

Efesus 4:1-7

TUJUH “KESATUAN”

Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera

(Efesus 4:3)

Pernahkah Anda memiliki suatu pekerjaan yang membuat Anda merasakan suatu ikatan kuat dengan rekan-rekan kerja Anda? Mungkin Anda disatukan oleh misi yang sama, atau rasa hormat kepada atasan, atau kepercayaan bahwa perusahaan yang makmur akan menguntungan setiap orang secara finansial. Semakin banyak hal yang disepakati dalam sebuah kelompok, persatuan mereka semakin erat, kinerja mereka semakin baik, dan kemungkinan terjadi pertengkaran di antara rekan kerja semakin kecil.

Orang kristiani memiliki pemersatu bawaan yang dapat membuat mereka bekerja bersama dalam satu kesatuan roh. Di Efesus 4:4-6, Paulus mendaftar tujuh hal yang menjadi satu “kesatuan”. Renungkan betapa bergunanya hal-hal itu dalam membantu kelompok orang percaya mana pun untuk bekerja sama pada proyek sama:

· Satu tubuh-kita adalah satu keluarga yang dipersatukan untuk satu tujuan,

· Satu Roh-kita semua mempunyai Roh yang menjadi sumber kekuatan,

· Satu pengharapan-kita menantikan masa depan yang sama,

· Satu Tuhan-kita memercayai Pemegang Kendali yang sama,

· Satu iman-kita semua memercayai pengurbanan Yesus untuk keselamatan kita,

· Satu baptisan-kita semua mempunyai identitas tunggal, dan

· Satu Allah dan Bapa-kita semua berbagi sumber eksistensi yang sama.

Alangkah besarnya perbedaan yang terjadi jika kita semua bisa tinggal dalam tujuh “kesatuan” itu

PARA PENGIKUT KRISTUS SEHARUSNYA MEMUSATKAN PERHATIAN

PADA HAL YANG MENYATUKAN, BUKAN YANG MEMISAHKAN MEREKA

Minggu, 17 Agustus 2008

Mazmur 119:9-24

BUKAN MAKANAN CEPAT SAJI

Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu

(Mazmur 119:15)

Saya suka melihat sapi-sapi yang berbaring di padang sambil memamah biak. Apakah yang dimaksud dengan memamah biak itu? Dan mengapa mereka menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengunyahnya?

Pertama-tama, sapi memenuhi perut mereka dengan rumput dan makanan lain. Lalu mereka bersantai dan mengunyah rumput sampai tuntas. Mereka mengeluarkan kembali makanan dari perut dan mengunyah lagi makanan yang telah mereka makan itu, menyerap gizi yang terkandung di dalamnya, dan mengubahnya menjadi susu. Apakah ini menghabiskan waktu? Ya. Apakah ini membuang waktu? Tidak, jika mereka ingin menghasilkan susu yang baik.

Frasa “memamah biak” digunakan untuk menjelaskan proses perenungan. Penulis Mazmur 119 dengan jelas melakukan pengunyahan secara mental sewaktu ia membaca firman Allah. Tidak ada makanan cepat saji baginya! Jika kita mengikuti teladannya dalam membaca Alkitab secara hati-hati dan disertai doa, kita akan:

• dikuatkan melawan dosa (ayat 11);

• menemukan kesukaan untuk belajar lebih banyak tentang Allah (ayat 15,16);

• menemukan kebenaran rohani yang ajaib (ayat 18); dan

• menemukan nasihat bijak untuk keseharian hidup (ayat 24).

Perenungan itu lebih dari sekadar membaca Alkitab dan memercayainya. Merenungkan berarti menerapkan ayat-ayat Alkitab dalam kehidupan sehari-hari.

Firman Allah tidak dimaksudkan untuk menjadi makanan cepat saji. Jangan tergesa-gesa mengunyahnya hingga tuntas - J

UNTUK MENJADI ORANG KRISTIANI YANG SEHAT

JANGAN MEMPERLAKUKAN ALKITAB SEBAGAI MAKANAN RINGAN

Senin, 18 Agustus 2008

2Korintus 4:3-7

MENCERITAKAN KEBENARAN

Bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan

(2 Korintus 4:5)

Ketika Anda memikirkan istilah penginjilan, gambaran apa yang terlintas dalam pikiran Anda? Stadion besar yang penuh manusia? Buku kecil dengan serangkaian diagram? Seorang kristiani yang mengenakan pin bergambar ikan? Orang beriman yang taat, yang sedang berdebat dengan penyembah berhala? Seorang wiraniaga yang sedang meyakinkan orang yang enggan untuk “mencoba Yesus”?

Bagi sebagian dari kita, penginjilan adalah kata dengan 11 huruf yang dihindari. Walaupun kita berpikir ini merupakan gagasan yang bagus untuk orang lain, kita yakin ini bukan untuk kita. Kita tidak cocok untuk menjadi “penjual”, ataupun cukup mahir untuk berdebat dengan orang nonkristiani.

Tetapi penginjilan sebenarnya tidak sama seperti menjadi “pedagang keliling” yang menipu orang untuk membeli apa yang tidak mereka butuhkan. Penginjilan bukanlah aktivitas seperti mencengkeram kerah baju seseorang, kemudian memaksakan iman yang tidak bisa masuk lebih dalam dari saku bajunya. Alangkah seramnya dakwaan ungkapan ini, “Anda bisa mengenali orang-orang yang telah diinjili olehnya dengan melihat penampilan mereka yang tampak murung.”

Penginjilan adalah menceritakan kepada orang lain apa yang kita ketahui mengenai Yesus. “Bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan” (2 Korintus 4:5). Tidak ada tipu muslihat. Tidak ada penipuan. Katakan kebenaran, kebenaran yang sesungguhnya, bukan yang lain, hanya kebenaran-dengan kasih. Lalu serahkan hasilnya kepada Allah- HR

KITA YANG MENGENAL SUKACITA KESELAMATAN

TIDAK BOLEH MENYIMPANNYA UNTUK DIRI SENDIRI

Selasa, 19 Agustus 2008

Yakobus 4:13-17

“TAK ADA YANG PASTI”

Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok (Yakobus 4:14)

Pada November 1975, kapal barang yang besar Edmund Fitzgerald tenggelam di air dingin Danau Superior selama badai yang keras. Hanya seminggu sebelum tragedi itu terjadi, kepala pelayan kapal Robert Rafferty menulis surat kepada istrinya, “Aku mungkin pulang tanggal 8 November. Tetapi, tidak ada yang pasti.” Ironi yang mengandung nubuatan dari kata-katanya dicatat di sebuah artikel surat kabar yang menampilkan daftar 29 anggota kru yang tewas dalam bencana tersebut.

Tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa peringatan yang menyatakan bahwa kehidupan kita di bumi ini bisa berakhir setiap saat. Yang perlu kita lakukan adalah membaca kolom berita kematian. Kita akan mendengar sebuah pesan yang keras dan jelas: Hari ini kita ada di sini, tetapi besok mungkin kita tiada! “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4:14).

Kalau begitu, apakah satu-satunya kepastian kita adalah kenyataan pasti bahwa setiap saat kita bisa terlempar ke ketiadaan? Tidak! Kristus-lah pautan jiwa. Dia membayar hukuman atas dosa-dosa kita di kayu salib. Jika kita mengakui kesalahan kita di hadapan Allah, kita akan menerima pengampunan dan kehidupan abadi melalui iman kepada-Nya. Dia telah berjanji untuk tetap bersama kita, bahkan di saat kematian.

Apakah hidup Anda di dunia ini tampak sia-sia karena “tidak ada yang pasti”? Jika demikian, berserahlah kepada Kristus! Dia menyediakan kepastian penuh sukacita akan keabadian yang bisa menjadi milik Anda sekarang juga - DJ

TIDAK PERNAH TERLALU CEPAT UNTUK MENERIMA KRISTUS

TETAPI SETIAP SAAT BISA TERLALU TERLAMBAT

Rabu, 20 Agustus 2008

Matius 7:1-5

WASPADAI ROH MENGHAKIMI !

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi

(Matius 7:1)

Seorang laki-laki muda yang sudah menikah mulai pergi ke toko pornografi. Ketika orangtuanya mengetahui hal ini, mereka menegurnya dengan lembut dan bijak, tetapi tidak menghakimi. Sang anak menanggapi dengan marah dan me-ngatakan bahwa ia tidak melihat bahwa apa yang diperbuatnya itu berbahaya. Ia menuduh orangtuanya suka menghakimi. Dengan hati remuk mereka hanya bisa diam dan melihat ketika putranya meninggalkan istri dan keluarganya, kehilangan pekerjaan, dan akhirnya hidupnya hancur.

Banyak orang zaman sekarang akan mengatakan bahwa orangtua tidak berhak untuk menegur bahwa mereka salah. Mereka bahkan mungkin mengutip kata-kata Yesus, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Matius 7:1).

Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kita bertanggung jawab untuk dengan rendah hati menegur sesama orang percaya ketika kita melihatnya berbuat dosa (Galatia 6:1,2). Orangtua ini melakukan tanggung jawabnya dengan penuh kasih.

Yesus tidak mengatakan kita tidak boleh menentang dosa. Dia mengatakan kita harus hati-hati dalam menghakimi. Paulus menulis bahwa kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain (1 Korintus 13:5). Kita harus menerapkan prinsip praduga tak bersalah, dan mengenali keterbatasan kita sendiri. Dan kita harus menolak perasaan superioritas rohani apa pun. Kalau tidak, kita juga akan jatuh ke dalam dosa.

Menegur orang lain merupakan tanggung jawab yang serius. Lakukan dengan hati-hati, dan waspadalah selalu agar jangan menghakimi - HL

HAKIMILAH DIRI ANDA SENDIRI

SEBELUM MENGHAKIMI ORANG LAIN

Kamis, 21 Agustus 2008

Matius 6:5-15

SECUKUPNYA SAJA

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

(Matius 6:11)

Seorang perempuan yang menyiapkan makanan selama musim panen untuk para pekerja pertanian yang lapar, akan mengamati mereka saat menghabiskan setiap makanan yang disajikan di meja makan. Kemudian ia akan berkata, “Bagus. Saya menyiapkan jumlah yang cukup.”

Banyak di antara kita bergumul untuk merasakan hal serupa mengenai sumber daya yang dipercayakan kepada kita. Saat selesai makan atau saat berada di akhir bulan, apakah kita benar-benar percaya bahwa Allah telah mencukupkan kebutuhan kita? Ketika kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11), berapa banyak yang kita harapkan akan disediakan Allah? Sebanyak yang kita inginkan? Atau sebanyak yang kita perlukan?

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa kunci untuk nutrisi yang baik adalah makan sampai kita merasa kenyang, bukan sampai kita kekenyangan. Dalam setiap bidang kehidupan, ada perbedaan antara lapar yang sebenarnya dan nafsu tamak. Kerap kali, kita menginginkan sedikit lebih lagi.

Dalam ajaran Yesus mengenai berdoa, Dia berkata, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Sebab itu janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” (Matius 6:8,31).

Ketika Tuhan menyediakan kebutuhan-kebutuhan kita, mungkin kita harus melihat pemeliharaan-Nya melalui perspektif baru dan bertekad untuk mengucap syukur dengan berkata, “Bapa, Engkau memberikan jumlah yang cukup bagiku” - DC

KETIKA TIBA WAKTUNYA UNTUK BERSYUKUR

JANGAN TAHAN DOA SYUKUR ANDA

Jumat, 22 Agustus 2008

Daniel 3:8-18

KEBERANIAN DI TENGAH KRISIS

Kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu (Daniel 3:18)

Selama berabad-abad, beberapa hamba Allah menghadapi kemungkinan kematian yang menyiksa, kecuali mereka mau menyangkal iman. Mereka tahu bahwa Allah sanggup membebaskan mereka. Tetapi mereka juga tahu bahwa untuk menggenapi rencana-Nya, mungkin Dia tidak menjawab permintaan mereka untuk memberikan bantuan yang ajaib.

Dalam kitab Daniel, tiga pemuda Ibrani yang menjadi tawanan di Babel menghadapi pilihan hidup-dan-mati: Memuja patung emas raja atau dilempar ke dapur api. Mereka menjawab dengan tegas, “Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu.” Mereka menambahkan, “Tetapi seandainya tidak, . . . kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Daniel 3:17,18).

Tetapi jika tidak! Kata-kata itu menantang kesetiaan kita. Seandainya kita menghadapi penyakit yang melumpuhkan. Andaikan kita menghadapi aib yang memalukan. Andaikan kita menghadapi kehilangan yang menyakitkan. Kita memohon campur tangan Allah, namun dalam setiap situasi yang mengancam, permohonan kita seharusnya juga menyertakan syarat, “Tetapi jika tidak!”

Apakah kita bersikap seperti Yesus di Getsemani? “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

Apakah kita sanggup untuk menahan siksaan apa pun yang akan memuliakan Allah dan menggenapi rencana-Nya yang kudus? - VG

APABILA KEYAKINAN KITA KUAT

KEBERANIAN AKAN MUNCUL UNTUK MEMPERTAHANKANNYA

Sabtu,23 Agustus 2008

Yohanes 10:1-15

LEBIH DARI NASIHAT BAIK

Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar

(Yohanes 10:3)

Beberapa tahun yang lalu, saya diundang untuk berbicara mengenai masalah tuntunan. Untuk mempersiapkan diri, saya kemudian membuka konkordansi untuk melihat kata “tuntunan”. Saya berharap akan menemukan daftar ayat-ayat yang panjang yang menyatakan janji Allah tentang tuntunan. Tetapi saya terkejut karena tidak ada kata tuntunan di sana. Saya justru menemukan kata penuntun dan sejumlah ayat yang menjanjikan bahwa Allah sendiri akan menjadi penuntun umat-Nya.

Penemuan ini menambah wawasan segar bagi perjalanan panjang iman kristiani saya. Saya diingatkan bahwa orang-orang buta membutuhkan anjing penuntun, bukan anjing yang memberikan tuntunan! Bahkan apabila anjing mampu berbicara, alangkah tidak memuaskannya jika mereka hanya menjadi pengawas yang meneriakkan peringatan-peringatan kepada orang buta tersebut dari kejauhan: “Sekarang kamu harus hati-hati! Kamu mendekati lubang. Awas pinggir jalan!” Tidak, makhluk bisu tetapi setia ini akan menuntun orang buta di setiap langkah di jalan, menjadi mata dan memimpin langkah si buta dengan aman di sepanjang jalan yang berbahaya.

Sebagian orang menginginkan Allah menjadi agen penasihat yang mulia. Tetapi ketika pandangan kita kabur dan jalan menjadi gelap, seperti yang sering terjadi, kita memerlukan lebih dari sekadar nasihat baik-kita memerlukan Gembala yang Baik untuk memimpin kita (Yohanes 10:3,11).

Apabila kita mengikuti Kristus setiap hari, kita akan menerima tuntunan yang kita perlukan - J

MENCARI TUNTUNAN?

IKUTI KRISTUS, PENUNTUN ANDA

Minggu, 24 Agustus 2008

Galatia 3:19-4:7

HIDUP SEBAGAI ANAK RAJA

Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak,

maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah

(Galatia 4:7)

Ada kisah kuno mengenai seorang lelaki bernama Astyages yang berniat membunuh pangeran yang masih bayi bernama Cyrus. Lalu ia memanggil seorang prajurit di lingkungan rumahnya dan menyuruhnya membunuh bayi itu. Prajurit tersebut kemudian menyerahkan bayi itu kepada seorang gembala dan menyuruhnya naik dan menaruh bayi itu di atas gunung supaya mati kedinginan.

Tetapi gembala dan istrinya justru mengambil bayi itu dan memeliharanya seperti anak mereka sendiri. Karena dibesarkan dalam keluarga petani yang sederhana, ia mengira bahwa mereka adalah orangtuanya yang sebenarnya. Ia tidak menyadari darah bangsawan dan garis keturunan raja yang ada dalam dirinya. Karena ia berpikir ia seorang petani miskin, ia pun hidup seperti petani.

Banyak orang kristiani tidak menyadari bahwa mereka adalah ahli waris raja. Padahal mereka memiliki hak waris itu melalui Kristus. Mereka hidup seperti petani rohani yang miskin ketika mereka seharusnya hidup sebagai raja. Menurut Rasul Paulus, orang percaya “adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus” (Galatia 3:26). Ia juga mengatakan, “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa.’ Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah” (4:6,7)

Allah telah memberi kita segala yang kita perlukan untuk hidup penuh kemenangan dan kelimpahan. Jangan hidup seperti “petani miskin” - RW

SEORANG ANAK RAJA

HARUS MENCERMINKAN KARAKTER BAPANYA

Senin, 25 Agustus 2008

Mazmur 97

KEBENCIAN YANG SEMPURNA

Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan

(Mazmur 97:10)

Coba katakan apa yang Anda benci, maka saya dapat mengatakan orang seperti apa Anda. Kebencian dapat menjadi sisi kuat kebajikan, tetapi ada peringatan dengan huruf kapital berwarna merah yang menyertainya: Hati-hati.

Olive Moore, penulis Inggris abad ke-19, menulis kata-kata ini: “Hati-hatilah menggunakan kebencian …. Kebencian adalah hasrat yang membutuhkan seratus kali energi cinta. Pakailah hanya untuk membenci masalah, bukan orang. Pakailah hanya untuk membenci sikap tidak toleran, ketidakadilan, kebodohan. Kebencian akan menjadi kekuatan manakala kita menggunakannya untuk membenci hal-hal di atas. Kekuatan dan kedahsyatannya tergantung pada banyaknya kita memakai kebencian itu.”

Kita cenderung menghambur-hamburkan sikap benci untuk kesalahan dan perbedaan yang remeh. Komentar lawan politik dapat memancing rasa sengit kita. Surat bernada marah untuk editor sering membesar-besarkan hal-hal remeh karena penyakit kebencian kita salah sasaran. Gereja menjadi retak dan pecah ketika kebencian diarahkan kepada orang-orang, bukan pada kekuatan di sekitar kita yang menghancurkan kehidupan dan harapan.

Orang Methodist kuno yang melakukan perjalanan keliling digambarkan sebagai orang-orang yang tidak membenci apa pun selain dosa. Mereka adalah orang yang secara serius melakukan seruan pemazmur, “Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan!” (Mazmur 97:10), dan Nabi Amos yang mendesak pembacanya untuk “membenci yang jahat dan mencintai yang baik” (Amos 5:15) - HR

JIKA ANDA TIDAK BISA MEMBENCI YANG JAHAT

ANDA TIDAK BISA MENCINTAI YANG BAIK

Selasa, 26 Agustus 2008

Yosua 24:1-15

ITU PILIHAN ANDA

Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah

(Yosua 24:15)

Ketika Yosua hampir mendekati akhir masa hidupnya, ia mengumpulkan semua suku bangsa Israel di Sikhem. Dan di sana, dari bibir orang yang hampir mendekati ajal, muncullah suatu seruan yang telah menggerakkan hati banyak orang selama berabad-abad lamanya. Pada kesempatan itu Yosua berkata demikian, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yosua 24:15).

Tantangan yang diucapkan oleh Yosua ini, apabila dilihat dari sudut pandang Perjanjian Baru, akan menyatakan tiga pelajaran yang penting berkaitan dengan keselamatan kita. Pelajaran yang pertama adalah, kita harus membuat pilihan antara Allah dan setan. Apabila kita menolak Kristus, maka otomatis kita akan berada di pihak setan. Yesus pernah berkata, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku” (Matius 12: 30).

Kedua, pilihan ini merupakan keputusan pribadi. Yosua mengatakan, “Pilihlah … kepada siapa kamu akan beribadah.” Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita bisa dilahirkan kembali dan menjadi anak Allah. Tetapi kita sendiri harus mengambil keputusan secara pribadi untuk percaya.

Ketiga, terdapat desakan di dalam seruan ini. “Pilihlah pada hari ini”, bukan bulan depan, bukan seminggu dari hari ini, bukan besok, tetapi hari ini.

Apakah Anda sudah mengambil keputusan yang sangat penting ini? Apakah Anda memercayai Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat? Jika belum, lakukanlah sekarang! Ingat, pilihan berada di tangan Anda - RW

SEKARANG WAKTUNYA UNTUK MEMILIH TUHAN

BESOK MUNGKIN SUDAH TERLALU TERLAMBAT

Rabu, 27 Agustus 2008

1Petrus 2:9-17

DAFTAR PEKERJAAN ALLAH

Masyhurkanlah, bahwa nama (Allah) tinggi luhur

(Yesaya 12:4)

Allah memiliki daftar pekerjaan, yang, menurut Max Lucado dalam bukunya It’s Not About Me, terdiri dari satu hal: “Menyatakan kemuliaan-Ku.”

Tuhan menyatakan diri-Nya dan kemuliaan-Nya melalui ciptaan. Tetapi Dia juga melakukannya dalam berbagai cara melalui umat-Nya. Dalam 1 Petrus, kita melihat bahwa Allah telah menjadikan kita “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”. Setiap kali kita menyampaikan kepada orang lain bahwa Dia telah memanggil kita “keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” dan me-nunjukkan kepada kita belas kasihan (2:9,10), Dia menerima kemuliaan yang hanya layak diberikan bagi Dia.

Melalui cobaan-cobaan yang kita hadapi, Yesus menerima pujian, hormat, kemuliaan, karena iman kita “diuji kemurniannya dengan api” (1:6,7). Orang menyaksikan kita, dan ketika melihat kita bertahan terhadap pencobaan, mereka akan “memuliakan Allah” (2:12).

Kita juga mengarahkan orang lain kepada-Nya ketika kita menaati hukum dan pemegang kekuasaan “karena Allah” (2:13). Dan jika kita menggunakan talenta serta kemampuan yang telah dikaruniakan Allah untuk melayani orang lain, Dia “dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya” (4:11).

Tuhan berfirman, “Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain” (Yesaya 42:8). Jika prioritas pertama Allah adalah menyatakan kemuliaan-Nya, hak istimewa dan tanggung jawab kita sebagai umat-Nya adalah mencerminkan kemuliaan tersebut - AC

KEBAIKAN ALLAH MENYATAKAN KEMULIAAN-NYA

Kamis, 28 Agustus 2008

Keluaran 3:13-22

SIAPAKAH ALLAH ITU?

Firman Allah kepada Musa: “Aku adalah Aku”

(Keluaran 3:14)

Tiga ribu lima ratus tahun yang lalu, Musa bertanya kepada Allah siapakah diri-Nya dan ia menerima jawaban yang aneh. Allah berfirman, “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: ‘Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu.’ … Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya” (Keluaran 3:14,15).

Sudah lama saya bertanya-tanya mengapa Allah menyebut diri-Nya dengan nama demikian, tetapi perlahan-lahan saya memahami maksudnya. Sebuah kalimat hanya memerlukan dua hal supaya lengkap, yaitu sebuah subjek dan sebuah kata kerja. Jadi, ketika Allah mengatakan nama-Nya “Akulah Aku,” hal ini mengandung konsep bahwa Dia lengkap dalam diri-Nya. Dia adalah subjek sekaligus kata kerja. Dia dapat memenuhi segala yang kita butuhkan.

Jawaban Allah yang mendasar terhadap pertanyaan Musa, “Siapakah Engkau?” akhirnya menjadi sosok yang nyata dalam diri Yesus. Yesus meninggalkan surga untuk menunjukkan kepada kita apa artinya menyandang nama Bapa-Nya. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6). Dia juga mengatakan, “Akulah roti hidup” (6:48), “terang dunia” (8:12), “gembala yang baik” (10:11), dan “kebangkitan dan hidup” (11:25). Dalam Wahyu, Yesus menyatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir” (22:13). Dan Dia mengatakan, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58).

Jika Anda mempertanyakan siapakah Allah itu, luangkan waktu sejenak untuk mengenal Yesus lewat halaman-halaman firman-Nya – J

YESUS ADALAH GAMBAR ALLAH YANG TIDAK KELIHATAN –Kol 1:15

Jumat, 29 Agustus 2008

Mazmur 15

APA YANG ANDA KATAKAN?

Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela

(Mazmur 15:1,2)

Pada Santa Clara University di Kalifornia, seorang peneliti melakukan penelitian terhadap 1.500 orang manajer di bidang bisnis, yang menunjukkan nilai yang paling dihargai oleh karyawan dari seorang pemimpin. Para karyawan tersebut mengatakan bahwa mereka menghargai pemimpin yang dapat menunjukkan kompetensi, mampu memberikan inspirasi kepada para pekerja, dan pandai memberikan arahan.

Akan tetapi, ada sifat keempat yang lebih mereka kagumi, yaitu integritas. Lebih dari segalanya, para pekerja menginginkan seorang manajer yang memiliki perkataan yang baik, yang terkenal dengan kejujurannya, dan yang dapat dipercaya.

Walaupun temuan dari hasil penelitian ini sangat penting bagi para manajer kristiani, temuan ini juga menyampaikan sesuatu bagi setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus. Integritas harus menjadi ciri semua orang yang percaya kepada Kristus, apa pun posisi mereka.

Menurut kitab Mazmur 15, kebenaran menjadi inti setiap perkataan dan perbuatan orang kudus. Karena Allah selalu menepati kata-kata-Nya, maka wajar kiranya apabila orang kudus dikenal sebagai orang yang tindakannya sesuai dengan apa yang ia katakan.

Kita semua perlu lebih hati-hati dalam menjaga integritas kita. Apakah orang-orang di sekitar kita mengagumi kejujuran kita? Apakah Tuhan melihat kita dengan setia melakukan apa yang kita katakan-bahkan apabila hal itu akan menyakitkan bagi kita? (Mazmur 15:4) - M II

HANYA DENGAN HIDUP JUJUR

KITA DAPAT SEMAKIN BERMARTABAT DI MATA ORANG LAIN

Sabtu,30 Agustus 2008

Mazmur 119:97-104

GIGI MANIS

Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku

(Mazmur 119:103)

Wanita itu pasti suka sekali makan cokelat! Ia berhenti di toko Woolworth di London dan meminta setiap batang cokelat Mars yang ada. Ia membayar tunai untuk 10.656 batang cokelat. Melihat hal itu tak ada orang yang susah-susah bertanya mengapa ia menginginkan begitu banyak cokelat, tetapi ada satu orang yang dengan menyindir berkata, “Mungkin ia memiliki gigi manis.”

Pemazmur juga memiliki “gigi manis”-untuk sesuatu yang jauh lebih sehat daripada cokelat. Ia sangat menyukai firman Allah dan ia merasakan firman itu “lebih manis daripada madu” (Mazmur 119:103).

Bagaimana kita dapat mengembangkan selera rohani kita supaya kita menjadi sangat menyukai manisnya firman Allah?

Bacalah firman Allah. Tampaknya hal ini mudah dimengerti, tetapi Anda harus membaca firman Allah jika Anda ingin belajar mencintainya seperti pemazmur. Luangkan waktu selama beberapa menit setiap hari dan bacalah satu perikop. Renungkanlah kata-katanya, maknanya, dan konteksnya.

Renungkanlah firman Allah. Tuliskan sebuah ayat dan bawalah selalu. Bacalah firman tersebut sesering mungkin sepanjang hari. Ikuti teladan pemazmur dan “merenungkannya sepanjang hari” (ayat 97).

Terapkanlah firman Allah. Bertanyalah kepada Allah pemahaman seperti apa yang Dia inginkan dari Anda dan bagaimana menerapkannya bagi hidup Anda sepanjang hari.

Firman Allah akan memberi Anda “gigi manis” dan puaslah senantiasa dengan firman Allah tersebut.

ALKITAB YANG DIBACA DENGAN BAIK

MENANDAKAN JIWA YANG MENDAPAT MAKANAN ROHANI YANG BAIK

Minggu, 31 Agustus 2008

Lukas 9:1-10

MARILAH BERISTIRAHAT

Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika

(Markus 6:31)

Menurut kisah yang diceritakan turun- temurun, ketika Rasul Yohanes menjadi mandor di Efesus, ia memiliki hobi menerbangkan merpati. Alkisah, seorang penatua melewati rumahnya ketika ia pulang dari berburu dan melihat Yohanes sedang bermain dengan salah satu burung merpatinya. Dengan lembut penatua ini menegurnya karena ia menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia.

Kemudian Yohanes melihat busur pemburu itu dan mengatakan bahwa talinya kendur. “Ya,” jawab penatua itu, “saya selalu mengendurkan tali busur saya ketika tidak digunakan. Jika tetap dibiarkan kencang, tali ini akan kehilangan daya pegasnya dan bisa menggagalkan perburuan saya.”

Yohanes menjawab, “Saya pun sekarang sedang mengendurkan busur pikiran saya supaya saya bisa lebih baik meluncurkan panah kebenaran Ilahi.”

Kita tidak bisa melakukan pekerjaan secara maksimal apabila syaraf kita tegang dan merasa lesu karena mengalami tekanan terus-menerus. Ketika murid-murid Yesus kembali dari misi pengajaran yang melelahkan, Tuhan tahu bahwa mereka butuh beristirahat. Maka Dia mengajak mereka bersama-Nya mencari tempat yang tenang di mana mereka bisa segar kembali (Markus 6:31).

Hobi, liburan, dan rekreasi yang sehat adalah hal yang sangat vital untuk hidup kudus yang seimbang. Kita akan kehilangan efektivitas apabila terus-menerus mengusahakan disiplin ketat sehingga kita selalu tegang. Jika kita tampaknya tidak bisa santai, Yesus mungkin mengundang kita untuk beristirahat-ke “tempat yang sunyi … dan beristirahat” - JD

JIKA ORANG KRISTIANI TIDAK BERHENTI DAN BERISTIRAHAT

MUNGKIN MEREKA SEBENARNYA TELAH HANCUR!

About this entry

Poskan Komentar

 

About me | Author Contact | Powered By holy of christ | © Copyright  2008