RENUNGAN BULAN NOVEMBER 2008

November 2008

Lebih Berbahagia Memberi

Suatu malam, seorang pria datang ke rumah Ibu Teresa untuk memberitahukan bahwa ada sebuah keluarga Hindu dengan delapan anak, sudah berhari-hari tidak makan sedikit pun. Lalu Ibu Teresa mengambil beras secukupnya dan membawa ke rumah keluarga itu. Kemudian, ibu dari keluarga itu menerima beras dari tangan Ibu Teresa, membaginya menjadi dua bagian, lalu pergi. Beberapa saat kemudian setelah ibu itu kembali, Ibu Teresa bertanya kepadanya, “Ke mana saja Engkau pergi? Apa yang Engkau lakukan? Lalu ia menjawab “mereka juga kelaparan” sambil menunjuk ke tetangga sebelah rumahnya, yaitu sebuah keluarga Muslim yang memiliki jumlah anak yang sama dengannya dan yang juga tidak memiliki makanan sedikit pun (dikutip dari buku Ungkapan Hati Ibu Teresa, hal. 16).

Sesungguhnya ibu tadi, meskipun ia bukan seorang kristen, tetapi ia telah mempraktikkan apa yang ditulis dalam Alkitab, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis. 20:35). Mengapa lebih berbahagia memberi daripada menerima? Bukankah memberi berarti kita kehilangan milik kita? Jika kita menerima yang berbahagia hanya diri kita seorang. Tetapi jikalau kita memberi maka sedikitnya ada dua orang yang berbahagia yaitu diri kita dan penerima pemberian kita. Ketika kita bisa berbuat sesuatu yang berarti untuk orang lain itu adalah kebahagiaan yang melampaui kebahagiaan karena mendapat sesuatu dari orang lain.

Dalam sebuah film Perancis yang berjudul Amelie, dikisahkan seorang gadis yang dilahirkan dalam keluarga yang kurang memberikannya kasih sayang. Ayahnya seorang yang kaku, dan ibunya meninggal ketika Amelie masih kecil. Amelie merasa kehidupannya tidak berarti dan kosong. Tetapi itu semua berubah ketika Amelie memberi pertolongan pada orang lain, dengan mengembalikan barangnya yang hilang selama lima puluh tahun. Amelie menemukan makna hidupnya ketika ia melihat bahwa ia bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, bahwa ia bisa membahagiakan orang lain. Itulah kebahagian memberi yang tidak dapat diukur dengan uang dan materi. Maukah Anda lebih berbahagia? – PWY

Sabtu, 01 November 2008

2Tawarikh 20:1-17

SEKARANG BAGAIMANA?

Kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami.

Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu

(2Tawarikh 20:12)

Selama bertahun-tahun mengajar di sebuah SMP yang memiliki amat banyak siswa, saya biasa berujar (dengan sedikit bercanda) bahwa doa pagi saya adalah 2Tawarikh 20:12 -- "Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu."

Namun ketika Yosafat, Raja Israel mengucapkannya, ia sedang berhadapan dengan masalah hidup atau mati. Saat gabungan pasukan musuh berderap menuju Yerusalem, rakyat Yudea berkumpul untuk memohon bimbingan dan pertolongan Allah (ayat 13).

Dalam masa-masa menakutkan karena kekacauan dan perubahan, kita perlu berdoa, "Tuhanku, apa yang Kaukehendaki saat ini?" Dan seperti Raja Yosafat, sebaiknya kita mengawali doa dengan pujian kepada Bapa yang berdaulat dan penuh kuasa di surga (ayat 5-9).

Allah bersabda kepada raja dan rakyatnya, "Jangan kamu takut atau terkejut ... sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. Besok haruslah kamu turun menyerang mereka .... TUHAN akan menyertai kamu" (ayat 15-17).

Dalam keadaan tertekan dan situasi yang membingungkan, mungkin kita akan berkata dengan cemas, "Sekarang bagaimana?" Akan tetapi, apabila kita menatap Tuhan dan memercayai pemeliharaan-Nya, kecemasan kita akan diganti dengan kedamaian - DC

IMAN RUNTUH BILA MUNCUL KECEMASAN

DAN KECEMASAN BERAKHIR KETIKA IMAN TUMBUH

Minggu, 02 November 2008

Yakobus 1:19-27

BELAJAR DAN PRAKTEKKAN

Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja;

sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri

(Yakobus 1:22)

Sebuah gereja mempunyai seorang pendeta baru yang selalu mengkhotbahkan yang sama setiap Minggu. Ketika mulai ada keluhan, ia berkata kepada jemaat, "Saya akan mengkhotbahkan materi baru apabila Saudara sekalian sudah melakukan hal yang berulangkali saya sampaikan ini."

Pernyataan pendeta tersebut mengingatkan saya pada kata-kata Rasul Yakobus, "Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja" (1:22). Sebagai pengikut Kristus, kita harus mempraktekkan apa yang kita pelajari.

Michael Baughen, seorang pembicara pada konferensi Alkitab di Inggris, menyatakan, "Yakobus menghendaki agar Anda memiliki iman yang suci yang dipraktekkan dalam dunia." Baughen menunjukkan bahwa ada sebagian orang yang meski terlibat dalam kegiatan gereja dan rutin memberikan persembahan namun tak pernah peduli kepada orang lain. "Dunia menyebutnya munafik," ujarnya. Tentu saja, pelayanan yang sekadar omong kosong tak akan mengelabui dunia. Yakobus berkata bahwa sesungguhnya kita membodohi diri sendiri. Iman kita benar-benar "murni dan tak bercacat" saat kita membuktikannya lewat pelayanan kepada orang lain (ayat 27).

Baughen mengeluh, "Pada upacara pemakaman, sering saya mendengar orang berkata \'Ia tak pernah melakukan kejahatan,\' hingga ingin rasanya saya berteriak, \'Apakah ia pernah melakukan kebaikan?\'"

Sebagian orang Kristen hanya sedikit lebih baik dari penduduk dunia yang "tidak merugikan" di muka bumi ini, karena mereka hanya menjadi pendengar saja. Namun ada juga yang menjadi saksi yang berhasil, karena mereka adalah pendengar sekaligus pelaku firman.

Jangan cukup hanya belajar Firman Allah. Praktekkanlah itu! - J

ANDA TAK AKAN PERNAH SUNGGUH-SUNGGUH BELAJAR FIRMAN

SAMPAI ANDA MEMPRAKTEKKANNYA

Senin, 03 November 2008

Amsal 15:13-17

OBAT YANG MANJUR

Hati yang gembira adalah obat yang manjur

(Amsal 17:22)

Ketika saya bertumbuh dewasa, ibu saya yang adalah seorang wanita Kristen yang bijak, sering mengutip Amsal 17:22, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur." Biasanya ia mengutip ayat ini setiap kali ia menghendaki perubahan sikap saya. Akankah saya mengizinkan roh jahat meracuni pikiran saya, atau dapatkah saya bersyukur dan menikmati buah sukacita?

Ibu akan tersenyum pada saya sambil berkata, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur." Hanya itu saja. Tak ada khotbah, tak ada kuliah, hanya tujuh kata yang menunjukkan besarnya nilai kebahagiaan dari Allah, yang bisa timbul dari dalam diri kita.

Dalam Amsal 15, kita juga membaca, "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri" (ayat 13). Keadaan hati saya akan selalu tercermin lewat raut wajah saya.

Kemudian, dalam ayat 15 kita membaca bahwa, "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." Ketika keadaan yang ada di sekeliling diliputi keputusasaan, saya masih dapat menikmati hidangan dari meja perjamuan kasih Allah. Sebab, apa pun yang disodorkan oleh hidup ini kepada saya, Allah sanggup "memberikan sukacita kepadaku" (Mazmur 4:8).

Ibu saya yakin bahwa apabila saya berhenti berkeluh kesah dan mulai bersyukur kepada Allah atas setiap kemungkinan yang ada, saya akan memperoleh obat yang manjur, yang berasal dari hati yang gembira. Saya pikir, ibu saya benar - DM

APABILA ANDA MEMILIKI YESUS DI HATI,

PERLIHATKANLAH LEWAT WAJAH ANDA!

Selasa, 04 November 2008

Keluaran 4:1-12

HAL-HAL KECIL

TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?"

(Keluaran 4:2)

Musa telah diperintahkan Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan. Tetapi ia kuatir dengan reaksi orang-orang Mesir, bahkan terhadap reaksi bangsanya sendiri. Lalu Tuhan berkata kepadanya, "Apakah yang ada di tanganmu itu?" "Tongkat," jawab Musa (Keluaran 4:2). Kemudian Allah berkata kepadanya, "Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat" (ayat 17). Mujizat besar terjadi melalui tongkat itu ketika Musa mematuhi Tuhan. Sebagai tongkat, benda itu memang tidak berarti apa-apa, tetapi dapat menjadi alat yang berkuasa bila dipersembahkan kepada Tuhan.

Berkaitan dengan hal ini, J.W. Johnson menulis, membayangkan percakapan seperti demikian: "\'Apa yang ada di tanganmu?\' tanya Tuhan. \'Sebuah ketapel\' jawab Daud. \'Itu cukup, pergilah melawan raksasa itu!\' Dan si raksasa Goliat pun rubuh di hadapan seorang gembala yang masih muda. \'Apa yang ada di tanganmu?\' tanya Tuhan. \'Pena,\' jawab John Bunyan dari balik jeruji penjara Bedford. \'Itu cukup.\' Kemudian ia menulis cerita Perjalanan Seorang Musafir, dan kisah ini akan tetap dikenal selama dunia masih berputar."

Jangan memandang rendah diri Anda. Jika Allah memanggil Anda untuk suatu tugas, Dia akan melengkapi Anda. Dia hanya bertanya, "Apa yang ada di tanganmu?" Gunakan apa yang telah Dia berikan kepada Anda, dan Anda akan melihat apa yang dapat Dia perbuat dengan hal-hal kecil - RW

ALLAH MENGGUNAKAN ALAT-ALAT KECIL UNTUK

MEWUJUDKAN PERKARA-PERKARA BESAR

Rabu, 05 November 2008

2Korintus 4:1-7

KESAKSIAN DAGING DOMBA

Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1Yohanes 3:18)

Pernahkah Anda mendengar orang bersaksi dengan menggunakan daging domba? W.H.Lax, seorang pendeta Metodis yang telah melayani selama 38 tahun di London, melakukan hal itu.

Suatu ketika pendeta Lax mengunjungi seorang pria tua yang sakit parah. Pria itu tidak menyambut pendeta Lax dengan ramah. Tatkala ia melihat jubah kependetaan Lax, ia langsung membuang muka dan tidak mau berbicara.

Lax menduga persediaan makanan pria itu menipis. Karenanya, ketika pulang Lax mampir ke toko daging dan memesan dua potong daging domba untuk pria tua itu. Beberapa hari kemudian, ia berkunjung kembali dan mendapati sikap yang lebih bersahabat dari pria tersebut. Dalam perjalanan pulang, Lax memesan daging domba lagi di toko yang sama. Pada kunjungannya yang ketiga, ia mendapati banyak perubahan. Pria itu menjadi lebih simpatik dan bersahabat, bahkan mengizinkan Lax bersaksi tentang imannya.

Ketika Lax sedang pergi menginjil, pria itu meninggal dunia. Tampaknya pria tersebut telah percaya kepada Kristus, karena sebelum menghembuskan napas terakhir, ia sempat berkata, "Katakan kepada pendeta itu bahwa saya sudah berubah sekarang. Saya akan pergi menghadap Allah. Dan katakan padanya, bukan kata-katanya yang mengubah saya, tetapi daging dombanya!"

Memenuhi kebutuhan orang lain dapat menjadi suatu kesempatan yang baik untuk mengabarkan Injil. Dengan melakukannya Anda akan dapat meluluhkan hati yang paling keras dan membuka pintu yang telah terkunci sekian lama. Adakah Anda mengenal seseorang yang membutuhkan "daging domba" hari ini? - HR

SERINGKALI KESAKSIAN TERBAIK ADALAH KEBAIKAN

Kamis, 06 November 2008

Mazmur 33:1-22

SENYUM DI GEREJA

Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan tidak terkatakan

(1Petrus 1:8)

Beberapa waktu yang lalu, saya dan istri saya mengunjungi sebuah gereja di luar kota. Ketika kami pulang, istri saya bertanya, "Apakah kamu memperhatikan sesuatu yang aneh dengan orang-orang di gereja tadi?" Terus terang saya tidak begitu memperhatikan hal itu. Lalu, istri saya menjelaskan, "Tak ada seorang pun yang tersenyum." Ketika saya mengingatnya kembali, saya sependapat dengan istri saya. Suasana muram menyelimuti permainan musik dan pemberitaan firman. Bahkan, tidak biasanya serambi gereja juga terasa mencekam.

Pengalaman ini mengingatkan saya pada sebuah kolom surat kabar yang ditulis oleh Erma Bombeck beberapa tahun yang lalu. Suatu ketika, di gereja ia duduk beberapa baris di belakang seorang anak laki-laki dan ibunya. Anak itu menoleh ke belakang dan tersenyum kepada semua orang. Mereka pun membalas senyumannya. Tiba-tiba saja ibunya menyadari apa yang dilakukan anaknya. Ia memutar kepala anaknya dan berbisik cukup keras, "Berhentilah tersenyum. Kamu sedang berada di dalam gereja!"

Sesungguhnya, orang-orang yang berhak untuk bersukacita adalah mereka yang percaya kepada Kristus (1Petrus 1:3-8). Dia telah mati untuk kita, mengampuni dosa-dosa kita, mengirimkan Roh Kudus bagi kita, serta berjalan bersama kita setiap hari. Setiap saat kita bersekutu, kita patut bersukacita atas kebenaran-kebenaran tersebut.

Apabila kita merasakan kasih karunia Yesus setiap hari, kita memiliki alasan untuk tersenyum--khususnya di gereja. "Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN!" (Mazmur 33:1) - DE

SUKACITA BERASAL DARI TUHAN YANG TINGGAL DI DALAM KITA,

BUKAN DARI APA YANG TERJADI DI SEKITAR KITA

Jumat, 07 November 2008

Lukas 12:16-21

BERSIAPLAH!

Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu!

(Amos 4:12)

Seorang bangsawan meninggal dunia secara mendadak. Dengan segera pembantu pribadinya lari dan menyatakan kepada pembantu-pembantu yang lain bahwa majikan mereka telah tiada. Dalam kegugupannya, si pembantu pribadi tersebut bertanya dengan nada kuatir, "Ke mana beliau pergi?" Para pembantu lainnya menjawab, "Mengapa? Tentu saja beliau ke surga." "Tidak mungkin," katanya lagi, "Saya yakin, beliau tidak pergi ke surga."

Karena terkejut mendengar pernyataan itu, para pembantu lainnya bertanya bagaimana ia bisa tahu dengan pasti bahwa majikan mereka tidak pergi ke surga. Laki-laki itu menjawab, "Perjalanan ke surga sangat jauh, dan majikan kita tidak pernah melakukan perjalanan panjang yang tentangnya beliau tidak pernah bercerita atau melakukan persiapan sebelumnya. Saya tak pernah mendengar beliau mengatakan sesuatu tentang perjalanan ini atau menyiapkan diri untuk itu."

Memang benar, kita diselamatkan oleh kasih karunia lewat iman di dalam Kristus--bukan oleh seberapa banyak kita membicarakan hal itu (Efesus 2:8). Namun sangat aneh bila ada orang yang berpikir bahwa dirinya akan masuk surga, tetapi tidak pernah membicarakan tentang hal itu ataupun membaca firman Allah.

Orang kaya yang bodoh dalam Lukas 12 tidak siap ketika Tuhan berkata, "Pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu." Akankah Anda pergi ke surga, apabila Anda jarang berpikir dan berbicara tentang surga? Bagaimanapun juga, Anda akan bertemu dengan Allah. Sudah siapkah Anda? - RW

SURGA ADALAH SEBUAH TEMPAT YANG DISIAPKAN

BAGI ORANG YANG BENAR-BENAR SIAP

Sabtu, 08 November 2008

Markus 2:1-12

PENGOBATAN

Di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa

(Markus 2:10)

Seorang pria yang menderita batuk yang cukup parah telah mencoba segala obat bebas yang ada. Tetapi, tak satu pun dapat menyembuhkannya. Akhirnya ia pergi ke dokter, yang segera menemukan bahwa ia menderita radang paru-paru. Dengan meminum obat-obatan bebas tersebut, ia hanya memperingan gejalanya, tapi tidak mengobati penyakitnya. Sang dokter menangani langsung penyakitnya, dan dalam waktu singkat pria itu sembuh dari batuknya.

Pada waktu Yesus berada di Kapernaum, orang berbondong-bondong mendatangi rumah yang ditempati-Nya (Markus 2:1-2). Sementara Dia sedang mengajar, beberapa orang membuka atap di atas-Nya dan menurunkan seorang lumpuh yang berbaring di tilamnya. Tanggapan pertama Yesus bukanlah menyembuhkan orang lumpuh itu, namun Dia berkata, "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (ayat 5). Kebutuhan utama orang itu bukanlah kebutuhan fisik, tetapi kebutuhan rohani. Lalu, untuk menunjukkan bahwa Dia berkuasa mengampuni dosa, Yesus menyembuhkan orang itu dan menyuruhnya pergi -- tidak hanya dengan kakinya yang disembuhkan tetapi juga dengan hatinya yang diperbarui (ayat 12).

Dunia ini penuh dengan penderitaan dan masalah. Seringkali kita tergoda menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk meringankan gejala-gejala yang ada di permukaan, dan merasa telah melakukan bagian kita. Seperti Yesus, kita perlu berhubungan dengan masalah hati. Kita perlu menceritakan kepada orang-orang bahwa segala dosa mereka dapat diampuni melalui iman kepada Kristus. Injil menyediakan kebutuhan kita yang terdalam - DC

DOSA ADALAH PENYAKIT, KRISTUS ADALAH PENYEMBUH

Minggu, 09 November 2008

2Korintus 5:10-21

ALAT SEPERTI APAKAH ANDA?

Kasih Kristus yang menguasai kami

(2Korintus 5:14)

Dua orang pria sedang dipertimbangkan untuk menjadi pendeta di sebuah gereja. Keduanya membawakan firman tentang neraka. Yang seorang berkhotbah dengan sikap yang dingin dan menakut-nakuti, sementara yang seorang lagi berkhotbah dengan penuh kasih dan perhatian. Akhirnya, jemaat sepakat memilih pria yang kedua sebagai pendeta mereka. Alasan mereka adalah bahwa pria yang pertama memberi kesan seolah ia tidak peduli bila orang-orang masuk neraka, sedangkan pria yang kedua berkhotbah sebagaimana layaknya orang yang berduka apabila ada orang yang harus melewatkan kasih dan pengampunan Allah.

Dalam 2Korintus 5, Paulus menulis tentang takhta pengadilan Kristus. Kebenaran ini membuat Paulus semakin menyadari betapa perlunya ia "meyakinkan orang" (ayat 11). Paulus menyaksikan bahwa kekuatan yang mendorong pelayanan pendamaiannya bukanlah penghakiman, melainkan kasih Allah. Dalam ayat 20, kata memohon dan meminta yang Paulus ucapkan mencerminkan kerinduan dan kasih yang besar.

Bertahun-tahun yang lalu, Andrew Bonar berkata kepada Robert McCheyne bahwa ia baru saja membawakan firman yang diambil dari Mazmur 9:18, "Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati." McCheyne bertanya, "Dapatkah kamu membawakannya dengan penuh kelembutan?" Pertanyaan yang sama juga dapat diajukan kepada kita. Bagaimana cara Anda dan saya menyampaikan Injil Kristus kepada orang-orang yang belum percaya? Allah rindu untuk melembutkan hati kita dan menjadikan kita sebagai alat pendamaian - J

BILA KITA MENGENAL KASIH KRISTUS,

KITA PUN AKAN MENGASIHI MEREKA YANG TERHILANG

Senin, 10 November 2008

Filipi 3:13-21

MENANGGALKAN RASA BERSALAH

Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus

(Filipi 3:13,14)

Seorang pebisnis dikenal suka menyimpan hampir semua barang yang datang ke mejanya, terutama surat-surat. Akibatnya, dokumen-dokumen di kantornya menumpuk di situ. Suatu ketika, sekretarisnya bertanya apakah ia boleh membuang dokumen-dokumen lama yang sudah tidak terpakai. Pebisnis itu kemu-dian dengan enggan menjawab, "Oke, tetapi sebelum dibuang, jangan lupa difotokopi dulu ya."

Kurang lebih seperti itulah yang dilakukan oleh sebagian orang kristiani terhadap dosa mereka. Mereka tahu bahwa Yesus sudah menebus dosa-dosa mereka secara lunas, tetapi mereka tetap saja tidak dapat mengenyahkan rasa bersalah di dalam diri. Sepertinya penderitaan Yesus Kristus masih kurang, sehingga mereka merasa harus turut "menyumbangkan" sebagian dari kepedihan mereka dengan terus-menerus meratapi kesalahan yang pernah mereka perbuat. Mereka ingin terus "menggandakan" dosa mereka. Oh, alangkah bodohnya!

Rasul Paulus tidak menginginkan hal seperti ini. Ia menerima fakta yang utuh bahwa seluruh dosanya telah dihapuskan di hadapan Allah karena kematian Kristus telah menebusnya secara total. Kenangan masa lalu memang masih tampak nyata, tetapi tidak membebaninya lagi.

Segala hal yang telah terjadi pada diri kita masuk dalam suatu "sistem pencatatan di otak kita", yang disebut memori. Akan tetapi, berkat pengurbanan Yesus di kayu salib, kita dapat dengan bijak mengenyahkan perasaan bersalah yang mencengkeram hidup kita - DJ

ALLAH TIDAK MENGHENDAKI ANAK-ANAK-NYA

MENANGGUNG BEBAN RASA BERSALAH

Sabtu, 11 November 2008

1 Korintus 11:23-24

HARI PAHLAWAN

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka,

kata-Nya, "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku"

(Lukas 22:19)

Suatu kali saya sedang berada di bandara Heathrow London, untuk melanjutkan penerbangan berikutnya ke Amerika Serikat. Di situ saya melihat sebuah pemberitahuan di papan pengumuman bahwa hari itu adalah "Hari Pahlawan" di negara Inggris. Pada hari yang khusus itu semua orang menghormati orang-orang yang telah gugur dalam perang. Oleh sebab itu diumumkan bahwa pada pukul 11.00, setiap orang diminta untuk mengheningkan cipta sejenak selama dua menit dan sangat dihargai jika setiap orang menggunakan waktu itu untuk mengenang para pahlawan. Ketika saatnya tiba, ribuan orang dari berbagai negara berdiri mengheningkan cipta untuk menghormati para tentara, pelaut, marinir, dan pasukan udara yang gugur.

Semangat untuk mengenang orang-orang yang telah memberikan hidup mereka bagi negara adalah suatu hal yang mulia. Namun, walaupun demikian hal itu tidak sebanding dengan hak istimewa yang kita miliki saat kita diundang untuk mengikuti Perjamuan Tuhan. Ketika kita merayakan Perjamuan Kudus, kita memenuhi perintah Kristus untuk selalu mengingat kematian-Nya (Lukas 22:19) dan melakukannya "sampai Ia datang" (1 Korintus 11:26). Ketika Dia mengurbankan hidup-Nya bagi kita, Dia menganugerahkan pengampunan dosa sehingga kita bebas dan mendapat jaminan hidup kekal di surga.

Alangkah baiknya jika kita mengikuti upacara Perjamuan Tuhan tidak sebagai rutinitas belaka. Dan jadikanlah setiap kesempatan dalam Perjamuan Tuhan untuk menghormati Dia sampai hari kedatangan-Nya - WE

DENGAN MENGINGAT KEMATIAN KRISTUS BAGI KITA

KITA DIDORONG UNTUK HIDUP BAGI DIA

Rabu, 12 November 2008

Kisah Para Rasul 24:10-21

PERBARUI NURANI ANDA

Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup de-ngan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manu-sia

(Kisah Para Rasul 24:16)

Ada sebuah sistem hukum internal di dalam diri kita, yaitu hati nurani, yang memuji pada saat kita berbuat benar dan menghukum pada saat kita berbuat salah. Akan tetapi, alat pemantau moralitas yang sangat penting ini tidak sama satu dengan yang lain. Dalam beberapa kebudayaan, membunuh karena dendam dinilai sebagai suatu kehormatan. Sedangkan di kebudayaan lain, seseorang masih dianggap baik walaupun ia telah mengkhianati temannya.

Kisah yang didapat dari Badan Penyelidik Philadelphia dapat menggambarkan hal tersebut. Seorang anak laki-laki berumur 12 tahun tertangkap karena mencuri sebuah jam tangan. Ia bercerita kepada polisi bahwa ia pernah mengutil barang yang akan dihadiahkan untuk ibunya. Dan kini ia melakukan hal yang sama untuk ayahnya. Walaupun karena perbuatannya itu ia tidak jadi menghadiahi sang ayah, ia tidak menyesal karena telah mencuri.

Karena dosa, hati nurani tidak lagi bisa diandalkan dan perlu diperbarui secara rutin. Hal ini dimulai dari hubungan yang baik dengan Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Dia telah membayar lunas dosa-dosa kita, dan sekarang hati kita "telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat" (Ibrani 10:22). Namun, hal ini tidak membuat hati nurani kita menjadi kuno. Apabila kita menelaah Kitab Suci, Roh Kudus akan menjadikan hati nurani kita sesuai dengan firman, perbuatan, dan sikap Tuhan Yesus.

"Biarlah hati nurani memandu Anda" adalah pernyataan yang tepat apabila firman Allah menjadi pemandu bagi hati nurani Anda – DJ

HATI NURANI SEPERTI JAM MATAHARI: BILA KEBENARAN ALLAH MENYINARINYA,

JAM ITU AKAN MENUNJUK KE ARAH YANG BENAR

Kamis, 13 November 2008

Yohanes 21:14-17

KEBENARAN YANG MENGUBAH

Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati (Yohanes 21:14)

Kebenaran tetaplah kebenaran walaupun kebenaran tersebut tidak langsung berdampak pada kehidupan kita. Akan tetapi, kebenaran Allah tidak saja membuka pintu surga bagi kita, tetapi juga akan mengubah kehidupan kita.

Ron Sider, penginjil tersohor yang membela kaum papa, bercerita tentang perbincangannya dengan Wolfhart Pannenberg, seorang teolog Jerman. Ketika mereka berdiskusi tentang kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, teolog tersebut berkata, "Bukti kebangkitan Yesus sangatlah kuat, sehingga tidak ada seorang pun yang akan mempertanyakannya, kecuali tentang dua hal ini: Pertama, kebangkitan ini adalah kejadian yang luar biasa atau yang kedua, jika kita memercayai apa yang telah terjadi, maka kita harus sungguh-sungguh mengubah cara hidup kita."

Kalimat di atas benar-benar penuh tantangan. Jika kita percaya bahwa Yesus bangkit, maka keyakinan ini memerintahkan kita untuk mengubah hidup. Kehidupan Petrus berubah drastis ketika ia menyaksikan kebangkitan Tuhan. Dari seorang murid yang keras hati, yang menyangkal bahwa ia mengenal Tuhan saat Yesus ditangkap, ia berubah menjadi saksi yang berani untuk Tuhan (Yohanes 18: 17,25,27; Kisah Rasul 2:14-36).

Apakah kebangkitan Tuhan telah mengubah hidup Anda? Apakah tujuan dan prioritas Anda menjadi berbeda dari yang semula? Apakah Anda menjadi lebih baik, lebih sabar, dan lebih bersedia memaafkan? Mintalah petunjuk dari Allah apa yang Dia ingin untuk Anda lakukan, kemudian bekerja samalah dengan-Nya untuk membuat perubahan itu - VG

KEKUATAN YANG ALLAH PAKAI UNTUK MEMBANGKITKAN YESUS DARI MAUT

ADALAH KEKUATAN YANG JUGA BERKARYA DALAM DIRI ANDA

Jumat, 14 November 2008

2Korintus 9:6-15

MENABUR DAN MENUAI

Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang mena-bur banyak, akan menuai banyak juga (2Korintus 9:6)

Di tanah pertanian ayah saya terdapat beberapa petak lahan yang disebari benih secara langsung. Ayah akan membawa wadah mirip kantung kangguru, memenuhinya dengan benih, dan keluar untuk menaburkannya. Ia menabur benih di mana-mana.

Ketika seorang petani menebar benih di ladangnya, ia seakan-akan membuangnya. Benih itu seolah-olah hilang, tetapi tidak benar-benar hilang. Dalam beberapa waktu ia akan memperolehnya kembali-dengan lebih banyak tambahannya.

Saat menyerahkan diri kepada Kristus, kita seolah-olah menyia-nyiakan hidup. Namun, Dia bersabda bahwa jika kita kehilangan hidup demi Dia, kita akan memperoleh hidup sejati (Matius 10:39).

Yesus mengajar kita untuk mengukur hidup dengan kehilangan daripada perolehan, dengan berkorban daripada menikmati kenyamanan bagi diri sendiri, dengan menghabiskan waktu bersama orang lain daripada untuk diri sendiri, dengan menaburkan cinta daripada menikmati cinta.

Inilah aturan hidup: Allah memberkati orang yang memberikan hidup dan harta bendanya (2Korintus 9:6). Sampaikanlah kebenaran yang Anda ketahui, maka Dia akan memberi Anda lebih banyak hal untuk Anda bagikan lagi. Berikanlah waktu Anda, maka Anda akan memperoleh lebih banyak waktu untuk diberikan. Janganlah membatasi kasih Anda, maka Anda akan memperoleh kasih yang lebih banyak untuk orang lain daripada sebelumnya.

Seorang bijak Israel berkata, "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya" (Amsal 11:24). Ini adalah salah satu paradoks kuno di dunia ini, tetapi benar-benar terjadi - DR

BILA ANDA MERAUP SESUATU, MAKA ANDA AKAN KEHILANGAN

BILA ANDA MEMBERI KEPADA ALLAH, MAKA ANDA AKAN MEMPEROLEH BANYAK

Sabtu, 15 November 2008

1Timotius 4:12-16

JADILAH CONTOH

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perka-taanmu,

dalam tingkah laku-mu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam ke-murnianmu

(1Timotius 4:12)

Sebuah SMA yang dinobatkan sebagai SMA yang "Terbaik dan Paling Cemerlang" di lingkungan kami, menunjukkan integritas yang kuat. Ketika dalam lomba mengeja kata-kata sukar di tingkat daerah, tim sekolah tersebut diberi soal kata "auditorium". Brady Davis, yang mewakili sekolah itu, menunduk sejenak untuk berpikir, tetapi kemudian ia mendapati bahwa ternyata kata itu tertulis pada penyangga mikrofon. Ia memberitahukan hal ini dan minta perhatian juri, yang kemudian menanggapinya dengan memberi lebih banyak kata sukar. Brady melakukan hal yang ia anggap benar dan tidak peduli orang lain menerimanya atau tidak.

Kita tidak tahu kapan tindakan kita bisa menjadi contoh bagi orang lain. Akan tetapi, jika hidup kita sehari-hari memuliakan Yesus, kebiasaan kita akan meneladan kebajikan-Nya, tidak peduli siapa yang memandangnya.

Kaum muda kerap kali lebih bisa menunjukkan idealisme dan antusiasme. Akan tetapi, kejujuran dan reputasi selayaknya menjadi tujuan para pengikut Kristus dari segala usia. Paulus berkata kepada penasihat mudanya yang bernama Timotius, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataaanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kemurnianmu" (1Timotius 4:12).

Brady Davis mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah mengubah dunia tanpa berkompromi terhadap dirinya sendiri. Kita dapat bergabung dengannya untuk mengejar kehidupan, integritas, dan perilaku yang dapat dicontoh - DC

CONTOH YANG BAIK SELALU MENGHASILKAN NASIHAT YANG BAIK

Sisipan November 2008

Lukas 10:30-37

TANGGAPAN KITA

Dalam film The Four Feathers, Harry Faversham meninggalkan Inggris pada tahun 1880-an untuk mencari teman-temannya di angkatan bersenjata kerajaan di Sudan. Dalam perjalanannya, Harry tersesat dan hampir mati di padang gurun yang sangat luas di Afrika. Saat nyawanya hampir melayang, ia diselamatkan oleh seorang warga Afrika bernama Abou Fatma yang kemudian merawatnya.

Karena terheran-heran oleh kebaikan orang tersebut pada orang asing, Harry bertanya kenapa teman barunya mau melakukan semua itu untuknya. Fatma menjawab dengan segera, "Allah membawamu kepadaku!"

Dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati, seorang imam dan seorang Lewi, yang sebenarnya memiliki panggilan untuk membantu mereka yang kesusahan, membiarkan begitu saja pengelana yang terkapar hampir mati di jalan menuju Yerikho. Walaupun orang Samaria termasuk golongan yang dibenci, ia justru memberikan waktu dan sebagian hartanya untuk membantu orang yang terluka itu. Hal itu mencerminkan belas kasih Kristus. Orang Samaria itu membebat luka-lukanya, membawanya ke penginapan, "dan merawatnya" (Lukas 10:34). Orang yang dirampok itu berada di jalur kehidupan ketiga orang yang melaluinya, tetapi hanya orang Samaria yang menanggapinya.

Saat kita menjalani hidup, kita ditantang untuk tanggap terhadap kebutuhan orang lain. Kita dapat menunjukkan kasih Kristus kepada mereka atau justru mengabaikannya. Bagaimana kita akan menanggapi pilihan-pilihan yang diberikan Allah dalam hidup kita? - WE

Untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, "Dan siapakah sesamaku manusia?" (Lukas 10:29)

BELAS KASIHAN TIDAK AKAN PERNAH LEKANG OLEH WAKTU

Minggu, 16 November 2008

Filipi 3:7-16

PENYAKIT TERBURU-BURU

Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya

(Filipi 3:12)

"Cepat!" "Kita terlambat!" "Kamu terlalu lambat!" Seberapa sering ungkapan tidak sabar tiba-tiba muncul dalam percakapan kita, menunjukkan kehidupan kita yang serba tergesa-gesa? Bila tidak hati-hati, kita bisa menjadi orang yang selalu cepat-cepat, yang menuntut segala hal hadir segera dan hasil seketika. Para ahli stres menamai hal ini "penyakit terburu-buru".

Pada surat Filipi 3, Rasul Paulus mengatakan bahwa pertumbuhan yang berlangsung sepanjang hidup mengingatkan kita bahwa proses kedewasaan kristiani dapat didorong, tetapi tidak bisa dipercepat. Dalam buku Overcomers Through the Cross, Paul Billheimer berkata bahwa seperti halnya Allah membutuhkan waktu untuk membuat pohon ek, Dia pun memerlukan waktu untuk membentuk orang suci. Pendewasaan kristiani adalah proses sepanjang hayat.

Billheimer menulis, "Sebuah apel mentah tidak enak dimakan, tetapi kita tidak selayaknya menyalahkannya. Apel itu tidak enak dimakan karena Allah belum selesai membuatnya. Itu adalah sebuah tahapan dari proses dan hal itu baik adanya."

Apakah Anda merasa tidak sabar dengan perkembangan rohani Anda? Ingatlah, Allah belum selesai dengan Anda-namun Dia juga tidak mengharapkan Anda tetap belum dewasa secara rohani sampai Dia memanggil Anda pulang. Pastikan bahwa tujuan hidup Anda adalah memahami Kristus dan menjadi seperti Dia. Kemudian pelan tetapi pasti, di bawah langit biru dan melalui badai, Dia akan membimbing Anda menuju kematangan. Inilah cara Dia menyembuhkan dengan pasti "penyakit terburu-buru" Anda - J

TIDAK ADA JALAN PINTAS UNTUK MENCAPAI

KEMATANGAN ROHANI

Senin, 17 November 2008

2 Korintus 4:7-18

KEMENANGAN SEJATI

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal

yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami

(2 Korintus 4:17)

Dalam pertandingan semifinal football tahun 2005 di Nebraska, tim Cowboys dari SMA Boys Town secara mengejutkan mencetak nilai yang sempurna. Namun, yang lebih penting, para pemain itu telah mengambil langkah besar untuk mengatasi perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga mereka seperti dilecehkan, ditelantarkan, dan tidak dipedulikan. Karena mendapat perlakuan seperti itu, kemudian mereka dibawa pada lingkungan yang aman dan penuh kepedulian di Boys Town.

Pelatih mereka, Kevin Kush yakin bahwa permainan football adalah suatu cara yang dapat digunakan untuk membentuk karakter. Ia berkata, "Kemenangan di Boys Town tidak diperoleh pada hari itu, di sebuah lapangan atletik. Akan tetapi, mereka telah menang beberapa tahun yang lalu dari sekarang di semua kota di negara ini dengan menjadi warga negara yang produktif." Timnya bermain untuk menang sembari mengejar tujuan yang lebih tinggi, yaitu sikap sportif, disiplin, dan kerja sama tim.

Paulus memiliki sudut pandang yang hampir sama dalam kaitannya dengan pengalaman kita sebagai pengikut Kristus. Saat mengalami penderitaan, ia mendorong jemaat Korintus untuk tidak kehilangan semangat (2 Korintus 4:17). Walaupun dalam penderitaan, kita mengejar tujuan yang lebih tinggi, yaitu kemenangan abadi dalam Kristus.

Ketika Boys Town Cowboys kalah dengan skor 10-0, mereka kecewa tetapi tidak bersedih. Pelatih mereka mengajarkan pada mereka untuk tetap bermain karena kemenangan dalam kehidupan masih akan diraih. Begitu juga kemenangan kita dalam Kristus - DC

PENCOBAAN DAPAT MENJADI JALAN YANG DIGUNAKAN ALLAH

AGAR KITA MERAIH KEMENANGAN

Selasa, 18 November 2008

Yesaya 26:1-4

KEDAMAIAN DALAM BADAI

Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya

(Yesaya 26:3)

Terkadang hidup ini sepertinya terasa sangat berat. Tubuh yang sakit, keputusan yang sulit, kesulitan finansial, kematian orang yang kita sayangi, atau impian yang hancur selalu mengancam hidup kita. Kita menjadi ketakutan dan merasa bingung. Kita bahkan merasa sulit untuk menaikkan doa karena diliputi oleh keraguan.

Kita yang mengenal Tuhan melalui iman pribadi kepada Kristus, dapat merasakan ketenangan ketika berada di tengah badai hidup, meskipun angin ribut pencobaan mengempaskan kita. Kita dapat merasakan kedamaian pikiran dan ketenangan batin.

Richard Fuller, seorang pelayan Allah yang hidup pada abad 19, bercerita tentang seorang pelaut tua yang berkata, "Dalam badai yang ganas, kita harus menempatkan kapal pada posisi yang tepat dan menjaganya agar tetap berada di situ." Fuller berkata, "Orang-orang kristiani, seperti itulah yang harus kalian lakukan .... Kalian harus menempatkan jiwa kalian pada satu posisi dan menjaganya. Kalian harus tetap bergantung pada Tuhan; dan ketika berbagai hal menghadang, misalnya angin ribut, gelombang, laut yang membentang, petir, kilat, batu karang, apa pun itu, kalian harus berpegang teguh pada kesetiaan Allah dan kasih-Nya yang tiada akhir dalam diri Kristus."

Apakah Anda sedang dirundung masalah? Belajarlah dari pelaut tua tadi. Arahkan pikiran Anda kepada Tuhan. Mintalah pertolongan-Nya, kemudian percayalah kepada-Nya bahwa Dia akan memberi Anda kedamaian di tengah badai yang Anda hadapi (Filipi 4:6,7) - RD

RAHASIA UNTUK MENIKMATI KEDAMAIAN ADALAH

MENYERAHKAN SEGENAP KEKHAWATIRAN KITA KEPADA ALLAH

Rabu, 19 November 2008

Roma 16:1-16

KUNJUNGAN RASA SYUKUR

Aku meminta perhatianmu terhadap Febe ....

Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri

(Roma 16:1,2)

Berdasarkan penelitian beberapa dokter di Amerika Serikat, menghitung berkat yang Anda terima dapat meningkatkan kesehatan jasmani. Para sukarelawan yang mencatat berkat setiap minggu, lebih jarang mengeluh sakit dan tidak enak badan dibanding para sukarelawan yang hanya mencatat pertengkaran-pertengkaran atau kejadian biasa setiap hari.

"Kunjungan rasa syukur" dikembangkan oleh Dr. Martin E.P. Seligman untuk meningkatkan kesehatan emosi yang kuat. Ia memberi anjuran kepada orang-orang agar memikirkan seseorang yang telah membuat perubahan besar dalam hidup mereka. Ia meminta mereka untuk menuliskan kisah tentang bagaimana orang itu telah membantu mereka, mengunjungi orang tersebut, dan membacakan kisahnya keras-keras. Tes itu menunjukkan bahwa setahun kemudian, orang-orang yang melakukan itu menjadi lebih bahagia dan dilaporkan bahwa tingkat depresi mereka berkurang. Bahkan yang lebih penting adalah mereka memikirkan bagaimana cara berterima kasih kepada orang yang berarti bagi mereka!

Rasul Paulus memiliki daftar panjang orang-orang yang telah membantunya dan kepada siapa ia berutang budi (Roma 16:1-16). Ia menulis bahwa Febe telah "menjadi pelayan", Priska dan Akwila telah "mempertaruhkan nyawa" baginya, dan Maria telah "bekerja keras" untuknya. Ia menghabiskan waktu untuk menuliskan rasa terima kasihnya dalam sebuah surat kepada jemaat di Roma.

Siapakah yang telah membantu untuk membentuk kehidupan Anda? Dapatkah Anda melakukan kunjungan syukur, demi kebaikan mereka dan diri Anda? - AC

RASA SYUKUR JANGAN HANYA DILAKUKAN KADANG-KADANG

TETAPI JADIKANLAH SEBAGAI SUATU KEBIASAAN

Kamis, 20 November 2008

Yakobus 1:13-21

MENIKMATI PEMBERIAN ALLAH

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna,

datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang

(Yakobus 1:17)

Untuk menghadiri retret pelayanan wanita di Tallinn, Estonia, Eropa Timur, Kara dan April meninggalkan Rusia Tengah dan menempuh perjalanan melintasi enam zona waktu yang berbeda. Karena beberapa bandara berkabut dan ada penerbangan yang dialihkan, mereka harus mengeluarkan uang tambahan sebesar 600 dolar. Kara merasa bersalah karena meninggalkan suaminya bersama kedua putrinya, demi mengikuti retret. Pengeluaran yang tak terduga tadi juga menambah rasa bersalahnya. Hal ini yang membuat Kara akhirnya mengirim e-mail kepada suaminya untuk mengabarkan bahwa ia sangat sulit menikmati retret tersebut.

Suami Kara menasihatinya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan pengeluaran yang berlebih itu. Ia berkata, "Lagi pula, Dia adalah Allah yang telah menjadikan kita ahli waris-Nya dan kita menjadi ahli waris yang setara dengan Kristus. Dia adalah yang memberikan Hawa kepada Adam. Dia adalah Allah yang senang memberikan hal-hal baik untuk anak-anak-Nya. Surga adalah karunia terbesar bagi kita ... tetapi kupikir Dia memberi hal baik untuk dinikmati -- memberi kita waktu untuk menikmati berkat-berkat-Nya. Dan saat ini adalah waktu yang diberikan kepadamu. Jangan khawatir, pengorbanan kami menunggumu akan terbalas jika kau kembali." Kita dapat menarik hal baru dari tanggapan suami Kara ini.

Sama seperti Kara yang akhirnya bisa menikmati retretnya, kita pun sebagai anak Allah dapat menikmati hal baik yang telah diberikan Tuhan tanpa merasa bersalah (1 Timotius 6:17). Selanjutnya, kita dapat menggunakan hal baik itu untuk menyalurkan berkat kepada orang lain - DE

SETIAP HAL BAIK BERASAL DARI BAPA

Jumat, 21 November 2008

Hagai 1:1-11

HAMPA TANPA ALLAH

Kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang ... kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas;

dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlubang

(Hagai 1:6)

Sepenggal bait dalam sebuah puisi murahan berbunyi demikian: "Seekor beruang tua yang gembira di kebun binatang, selalu tahu apa yang harus dilakukan. Jika bosan, ia akan berjalan maju mundur, berbalik, dan maju mundur lagi!" Penulis puisi ini tampak jelas berharap manusia dapat menangkap pelajaran dari sang beruang, karena makhluk hidup ini selalu gembira selama ada cukup makanan dan ada beberapa teman di sekeliling mereka.

Akan tetapi, tidak demikian halnya yang terjadi dengan manusia. Bangsa Israel yang telah kembali dari Babel mendapati bahwa manusia tidak bisa bahagia apabila ia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Saat itu mereka tidak peduli pada Bait Allah yang belum dibangun. Sebaliknya, mereka justru membangun rumah yang bagus serta berfoya-foya dan sibuk dengan hal-hal yang bersifat materialistis. Akan tetapi, hasil panen mereka sedikit, baju mereka tidak layak, dan uang mereka tidak dapat mengimbangi harga-harga yang melambung tinggi (Hagai 1:6). Sang nabi mengatakan bahwa ketidakbahagiaan mereka sesungguhnya bersumber dari ketamakan yang ada dalam diri mereka sendiri.

Allah menciptakan kita sesuai dengan citra-Nya dan demi kemuliaan-Nya. Kita tak akan pernah menemukan sukacita sejati sebelum mematuhi perintah Kristus, yaitu "carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya" (Matius 6:33). Jika kita melakukan prinsip firman Allah tersebut, maka kita akan menabur dan menuai dengan berlimpah, dan seluruh kebutuhan hidup kita pun akan dapat terpenuhi - HL

PEMUASAN DIRI YANG EGOIS HANYA AKAN MENGANTAR KITA

PADA KEHIDUPAN ROHANI YANG MANDEK

Sabtu, 22 November 2008

Kejadian 39:7-23

KETIKA KEADAAN MENJADI BURUK

Karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil

(Kejadian 39:23)

Pernahkah Anda mengalami bahwa saat Anda melakukan sesuatu yang benar, keadaan justru menjadi buruk? Apakah itu menunjukkan bahwa Anda adalah orang jahat? Adakah itu berarti Allah menolak Anda?

Mungkin Yusuf juga memiliki pertanyaan serupa di sepanjang peristiwa yang tercatat dalam Kejadian 39. Masalahnya bermula tatkala ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Sejak itu, meski ia telah berlaku sangat baik, namun masalah terus menguntitnya. Sebagai contoh, walaupun Yusuf menjaga integritasnya, namun ia dituduh melakukan kejahatan serius terhadap istri Potifar, majikannya.

Potifar menanggapi hal itu dengan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara. Yusuf, seorang yang baik, jujur, percaya pada Allah, merana dalam penjara Mesir. Mengapa Allah tidak melepaskannya? Mengapa kebenaran itu tidak terusut? Bukankah keadaan benar-benar tampak tidak adil?

Selama beberapa waktu tak terjadi sesuatu pun pada diri Yusuf. Namun, yang penting di sini adalah, "TUHAN menyertai Yusuf" (39:21). Allah sedang menjalankan rencana-Nya, dan untuk sementara waktu Yusuf harus tinggal di penjara orang Mesir. Apa yang tampaknya buruk, sesungguhnya baik, karena itu adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna.

Adakah hal-hal yang Anda rasa tidak berjalan dengan semestinya? Pastikan bahwa Anda sedang melakukan apa yang benar. Taatilah Allah dan tetaplah berada di dekat-Nya. Kemudian, berdiam dirilah dan perhatikan bagaimana Dia mengerjakan rencana-Nya yang sempurna! - JB

KESUKARAN SERINGKALI MERUPAKAN BERKAT YANG TERSELUBUNG

Minggu, 23 November 2008

Matius 14:13-21

MAKAN SIANG YANG TERSEDIA

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus

(Filipi 4:19)

Setiap kali saya dan istri saya berencana untuk bepergian jauh dari rumah, kami melakukan apa yang biasa dilakukan banyak orang: membawa makanan sebagai bekal makan siang. Shirley sering membawa roti, buah-buahan, dan minuman dingin untuk dimakan pada setiap pemberhentian di perjalanan. Bahkan, ketika anak-anak masih kecil, kami juga harus membawa keripik kentang, biskuit, dan sari buah dalam botol.

Lebih dari 5.000 orang yang datang dari kota-kota terdekat untuk mendengarkan Yesus di Danau Galilea rupa-rupanya tidak berencana terlebih dahulu. Apakah mereka lupa sama sekali akan makanan, karena terlalu bersukacita berada di dekat Yesus? Apakah mereka merasa terkejut ketika rasa lapar mulai datang? Kita tidak tahu dengan pasti. Yang kita tahu adalah: Seorang ibu yang bijaksana telah membekali anak laki-lakinya dengan sedikit roti dan ikan. Memang tidak banyak, tetapi apa yang ia sediakan bagi anaknya cukup untuk memberi makan ribuan orang setelah diberkati oleh Tuhan.

Kadang-kadang, kita tidak selalu berhasil dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan kekuatan kita. Seringkali ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Dan kita pun menjadi panik. Kita tidak yakin apa yang harus kita lakukan. Pada saat seperti itulah kita dapat bersandar sepenuhnya pada kehendak dan kemampuan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita--tidak saja kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan rohani. Firman Tuhan dalam Filipi 4:19 menjamin kita, "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." - DC

ALLAH MEMBERIKAN KASIH KARUNIA YANG CUKUP

ATAS SEGALA SESUATU YANG KITA HADAPI

Senin, 24 November 2008

Roma 8:1-11

HIDUP TANPA BATAS

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh

(Galatia 5:1)

"Anda akan memiliki kehidupan tanpa batas dengan El Dorado baru," ucap seorang penyiar dengan penuh percaya diri. Iklan radio dari pedagang mobil Cadillac lokal ini seolah-olah memberi kesan bahwa begitu Anda mengendarai sebuah mobil Cadillac baru, Anda akan mendapatkan kebebasan untuk melakukan apa saja yang Anda kehendaki. Tentu saja, pernyataan iklan tersebut tidak sesuai dengan kenyataannya. Pernahkah Anda mendengar tentang hidup yang tanpa batas?

Jutaan orang saat ini juga hidup tanpa batas, bahkan sekalipun sebagian besar dari mereka tidak memiliki mobil Cadillac. Mereka telah menolak kuasa dan fleksibilitas Alkitab, dengan mengatakan bahwa Alkitab sudah ketinggalan zaman. Sebagai akibatnya, mereka menganggap bahwa seks di luar nikah, aborsi, dan praktek-praktek homoseksual dapat diterima.

Orang merasa berhak menentukan apa yang benar dan yang salah. Dan mereka menyebutnya kebebasan!

Dalam Galatia 5:13-26, Paulus berbicara tentang kebebasan yang sejati. Hal ini bukan berarti kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan kita, tetapi tetap tinggal dalam hukum-hukum Allah dan menikmati setiap berkat yang disediakan. Tatkala kita bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamat, kita telah diberi kehidupan kekal, memiliki persekutuan pribadi dengan Allah, dan kebebasan untuk hidup menurut Roh dan bukan menurut daging (Roma 8:4). Hidup yang dipersembahkan bagi Yesus Kristus jauh lebih baik daripada hidup yang tanpa batas! - JD

KEBEBASAN SEJATI ADALAH HIDUP BAGI KRISTUS

Selasa, 25 November 2008

Lukas 11:1-13

MENGAPA KITA BERDOA?

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur

(Kolose 4:2)

Salah satu paradoks terkenal dalam iman Kristen adalah bahwa Allah ingin agar kita menceritakan kepada-Nya segala sesuatu yang kita alami, meskipun Dia sudah mengetahui segalanya. Lalu, mengapa kita perlu berdoa?

Apabila Anda pernah bergumul dengan pertanyaan semacam ini, mungkin pemikiran dari seorang pendeta pada abad ke-19, R.A. Torrey, dapat membantu. Ia memberi beberapa alasan mengapa kita harus berdoa:

* Karena adanya iblis, dan doa adalah salah satu cara yang dipilih Allah untuk melawannya (Efesus 6:12-13,18).

* Karena doa adalah cara yang Allah berikan agar kita dapat memperoleh apa yang kita butuhkan dari-Nya (Lukas 11:3-13; Yakobus 4:2).

* Karena doa merupakan sarana yang dipilih Allah supaya kita dapat menemukan "kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya" (Ibrani 4:16).

* Karena doa yang disertai ucapan syukur adalah cara yang Allah berikan agar kita memperoleh kelepasan dari kekuatiran dan merasakan "damai sejahtera Allah" (Filipi 4:6-7).

Di luar alasan-alasan di atas, sebenarnya kita cukup membaca perintah yang tertulis dalam 1Tesalonika 5:17, "Tetaplah berdoa," dan menyadari bahwa Allah menginginkan kita bercakap-cakap dengan-Nya. Memang, Dia adalah Allah yang Mahatahu, tetapi Dia juga menginginkan adanya persekutuan dengan kita. Tatkala kita mencari wajah Allah dalam doa, berarti kita sedang mempererat hubungan kita dengan-Nya. Inilah alasan terpenting mengapa kita perlu berdoa - JB

HAK KITA YANG PALING ISTIMEWA

ADALAH BERCAKAP-CAKAP DENGAN ALLAH

Rabu, 26 November 2008

2Petrus 1:1-21

BAGAIMANA ANDA TAHU?

Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita

(2Petrus 1:2)

Hujan badai yang terjadi suatu petang memunculkan pelangi terindah yang pernah saya lihat. Namun, ketika saya mencoba menceritakan hal itu pada istri saya, saya benar-benar frustrasi, karena begitu sulit bagi saya untuk melukiskan keindahannya dengan kata-kata. Agar lebih memahami apa yang saya amati, saya membaca sebuah artikel dalam ensiklopedia. Artikel itu menambah pemahaman saya, tetapi yang tersaji di sana hanyalah fakta-fakta yang kaku. Ensiklopedia itu tidak mampu mengungkap secara utuh tentang keagungan pelangi. Pengetahuan abstrak tentang pelangi berbeda dengan pengalaman menikmati keindahan pelangi itu.

Dalam 2Petrus 1 kita juga mendapati dua jenis pengetahuan yang berbeda. Pada ayat 5 dan 6, penulis menggunakan sebuah kata dalam Bahasa Yunani untuk "pengetahuan" yang berarti informasi abstrak yang dibutuhkan untuk pertumbuhan rohani. Tetapi, pada ayat 2, 3, dan 8, penulis menggunakan kata dalam Bahasa Yunani yang merujuk pada arti: pengenalan akan Kristus secara lebih utuh dan praktis, yang sebenarnya merupakan tujuan akhir dari pertumbuhan rohani. Dua istilah tersebut berbeda, sama halnya dengan membaca tentang pelangi berbeda dengan melihat keindahannya.

Ayub mengungkapkan tentang perbedaan tersebut ketika berbicara kepada Tuhan setelah melewati ujian yang datang dalam hidupnya, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (Ayub 42:5). Saat Anda meningkatkan pemahaman Anda tentang Allah, berdoalah agar pengalaman dan penghargaan Anda kepada-Nya juga bertumbuh - MII

KITA BUTUH LEBIH DARI SEKADAR KEPALA YANG PENUH FAKTA -

- KITA BUTUH HATI YANG PENUH IMAN

Kamis, 27 November 2008

Mazmur 116:1-19

LUTUT YANG RAPUH

Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya

(Mazmur 116:2)

Mari kita simak kehidupan Margaret yang pantang menyerah. Lebih dari 90 tahun pengalaman iman telah menjadi harta pusakanya, namun ternyata ia tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengalami berbagai penderitaan fisik yang biasa mewarnai kehidupan orang-orang di usia senja, dan meski tubuhnya sudah terlalu lemah untuk berjalan, Margaret tidak menghentikan pelayanannya.

Meskipun kelemahan fisik makin terasa, pendengaran makin berkurang, dan tubuh makin sulit digerakkan, Margaret melakukan sebuah pelayanan yang mampu menjangkau banyak orang jauh di balik dinding rumah jompo tempat ia tinggal. Setiap hari, setiap kali selama beberapa jam, ia duduk di kursinya dengan setumpuk kartu doa dan berdoa dengan tekun bagi para utusan Injil. Kadang-kadang, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk berlutut, dengan lututnya yang rapuh, di samping tempat tidurnya dan berbicara kepada Allah.

Margaret tidak memiliki apa-apa selain doa yang dipersembahkan kepada Tuhan. Apa yang dilakukannya menjadi inti jawaban dari pertanyaan yang terdapat dalam Mazmur 116:12, "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?" Ayat 13 menjawab, "Aku akan...menyerukan nama TUHAN."

Margaret memberi teladan tentang hidup yang terpelihara dalam kasih, anugerah, dan kemurahan Allah. Meski menghadapi kelemahan fisik yang semakin berat, ia tetap kuat secara rohani sampai akhir hidupnya. Milikilah semangat dan dedikasi seperti Margaret--berapa pun usia Anda! - JB

LASKAR KRISTUS BERJUANG PALING HEBAT DENGAN LUTUT MEREKA

Jumat, 28 November 2008

Markus 9:30-37

CALON YANG RENDAH HATI

Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar

(Lukas 9:48)

"Bagaimana pendapat Anda tentang calon-calon tadi?" Itulah pertanyaan yang dilontarkan seorang wartawan majalah berita kepada seorang wanita muda di Universitas Dartmouth seusai diadakannya acara debat di antara para calon presiden. Wanita muda itu tidak mengucapkan sepatah kata pun mengenai posisi calon-calon itu maupun kemampuan mereka sewaktu berdebat. Ia hanya mengucapkan, "Tak seorang pun di antara mereka yang memiliki kerendahan hati."

Benyamin Franklin, negarawan pertama Amerika, membuat daftar sifat karakter yang hendak ia kembangkan dalam hidupnya. Bila sudah berhasil menguasai satu sifat, ia melangkah pada sifat berikutnya. Menurutnya, ia dapat melakukannya dengan baik, hingga tiba saatnya ia harus mengembangkan kerendahan hati. Setiap kali ia menganggap dirinya membuat kemajuan yang berarti, ia pun berpuas diri dan menjadi sombong.

Kerendahan hati adalah sebuah sifat yang sukar dipahami. Bahkan murid-murid Yesus bergumul dalam hal ini. Tatkala Yesus mendapati mereka sedang berdebat tentang siapa yang terbesar, Dia menanggapi, "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya" (Markus 9:35). Lalu, Dia menggendong seorang anak kecil dan menunjukkan bahwa kita perlu melayani sesama dengan penuh kerendahan hati seolah kita sedang melakukannya bagi Kristus.

Apabila seorang wartawan berita mendatangi sahabat, tetangga, atau saudara seiman kita, dan bertanya tentang diri kita, akankah mereka menyebut kita rendah hati? - DC

BILA KERENDAHAN HATI TERCAPAI

SESEORANG TAK AKAN MENGHARAP PUJIAN

Sabtu, 29 November 2008

Yohanes 19:25-30

SELESAI!

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, "Sudah selesai"

(Yohanes 19:30)

Banyak harapan dan impian manusia yang kadang tidak terpenuhi. Seorang komposer yang bernama Franz Schubert wafat dengan meninggalkan karyanya Unfinished Symphony (Simponi yang Belum Selesai). Kejadian serupa juga dialami oleh penulis produktif Charles Dickens yang tidak dapat mengembangkan plot novelnya yang berjudul The Mystery of Edwin Drood.

Kita tentu juga memiliki banyak aspirasi yang belum dapat terpenuhi sampai saat ini. Akan tetapi, alangkah terberkatinya diri kita karena mengetahui bahwa karya penebusan kita secara total dan sempurna telah diselesaikan oleh Yesus di atas kayu salib.

Ucapan terakhir Yesus, "Sudah Selesai," sebenarnya hanya terdiri dari satu kata dalam bahasa aslinya (Yohanes 19:30). Akan tetapi, kata tersebut mengandung makna yang luas. Yang diucapkan oleh Yesus menjelang wafat-Nya dapat berarti "Lengkap!" atau "Berakhir!". Seruan dari atas salib itu menyatakan bahwa tidak hanya penderitaannya yang berakhir, tetapi juga karya penebusan-Nya yang kekal telah selesai. Semua yang telah dilakukan selama Dia menjalani hidup sebagai manusia, telah usai. Selesai!

Kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk menambahkan sesuatu pada kurban-Nya. Kematian Kristus yang menyerahkan diri-Nya sudah sangat cukup. Kita cukup mengulurkan tangan kosong dengan penuh iman, maka Allah dalam kemuliaan-Nya akan memberikan hidup kekal kepada kita.

Sudahkah Anda mengulurkan tangan dengan penuh iman untuk menerima karunia-Nya? - VG

PENGURBANAN KRISTUS ADALAH HAL YANG DIKEHENDAKI ALLAH

DAN HAL YANG DIBUTUHKAN OLEH DOSA-DOSA KITA

Minggu, 30 November 2008

Mazmur 119:97-104

HAUS AKAN FIRMAN TUHAN

Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani,

supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan

(1 Petrus 2:2)

Malam itu, saya baru saja selesai mengikuti pelayanan konferensi Alkitab di Kuala Lumpur, Malaysia. Saat itu saya sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang yang juga mengikuti konferensi tersebut. Di barisan belakang kami ada seorang pemuda berusia 20 tahunan. Pemuda ini bercerita kepada kami bahwa ia baru empat bulan mengikut Tuhan Yesus, dan sangat ingin belajar lebih banyak tentang berbagai ajaran dalam Alkitab. Saya mengusulkan agar ia mengunjungi salah satu website yang memiliki menu "Discovery Series" sebagai salah satu sumber yang memungkinkan bagi dia untuk belajar sendiri.

Malam berikutnya pemuda tersebut kembali mengikuti seminar dan bercerita bahwa ia tidak tidur sampai pukul 03.30 karena terus membaca dan merenungkan kebenaran Alkitab yang ia temukan dari website tersebut. Dengan senyum lebarnya, ia mengatakan bahwa ia tidak akan pernah merasa cukup membaca dan menikmati firman Tuhan (1 Petrus 2:2).

Sungguh besar kehausan rohaninya! Kegembiraan yang dirasakan pemuda tadi dapat mengingatkan kita akan keajaiban Alkitab dan kebenarannya yang memperkaya jiwa. Kita memang dapat dengan mudah tidak mengindahkan firman Tuhan di tengah dunia yang penuh dengan jeritan yang meminta perhatian kita. Akan tetapi, sesungguhnya hanya di dalam Alkitab kita dapat menemukan hikmat Allah bagi setiap pergumulan kita, jawaban Allah terhadap setiap pertanyaan kita, dan kebenaran Allah bagi setiap pemahaman kita. Kita patut merasa haus terhadap kebenaran-kebenaran yang luar biasa ini - WE

BELAJAR ALKITAB MEMBUAT KITA BIJAK; MEMERCAYAINYA MEMBUAT KITA AMAN;

MELAKUKANNYA MENJADIKAN KITA SUCI

About this entry

Poskan Komentar

 

About me | Author Contact | Powered By holy of christ | © Copyright  2008