Salib Lambang Keselamatan


Dua ribu tahun yang lalu, Yesus tergantung di kayu salib. Tangan dan kakinya terpaku di kayu salib. Salib hina menopang tubuh-Nya yang lemah setelah siksaan dan deraan sepanjang akhir hidup-Nya.
Apakah salib itu menjadi saksi betapa hinanya akhir kehidupan Yesus? Betapa tragisnya akhir suatu kehidupan seorang Anak Manusia yang disebut “Guru” dan “Tuhan” oleh para murid-Nya. Apakah salib itu menjadi sebuah simbol kesia-siaan?

Ribuan generasi menghujat Yesus dan menolak-Nya. Tak terbilang yang mencemooh dan menghina karya agung keselamatan Yesus. Hampir semua menolak kenyataan pahit akhir kehidupan Yesus dan meninggalkan dan berusaha melupakan tragedi sejarah sepanjang usia bumi ini.


Telah Terbentang Lengan Kasih Allah

Tetapi di balik kehinaan itu, di balik kesengsaraan dan tragedi itu, terbentanglah jalan keselamatan. Yesus, Sang Anak Allah, telah membentangkan tangan-Nya, terentang antara langit dan bumi, seolah merentang menyambut seluruh umat manusia untuk kembali ke dalam dekapan kasih Allah.

Seruan-Nya yang memaafkan segenap kesalahan dan dosa manusia menjadi panggilan untuk setiap hati yang mendengarkan-Nya. Datanglah ke dalam rengkuhan pelukan kasih Allah yang telah terentang antara langit dan bumi. Yang menjadi saksi dan bukti bagi kasih Allah yang begitu besar bagi umat manusia.

Salib menjadi saksi bahwa manusia telah dipanggil Allah. Salib itu telah menjadi simbol pengingat bagi manusia akan kasih Allah yang begitu besar dan tidak terjangkau akal-budi manusia. Allah telah merentangkan lengan kasih-Nya untuk menyambut umat manusia yang terpanggil dan datang kembali ke kerajaan Allah.
Bagi manusia skeptis, salib adalah simbol siksaan dan hinaan bagi Yesus. Tetapi bagi manusia terpanggil, salib adalah simbol nyata kasih Allah.


Hukum Allah Dituliskan Dalam Hati Manusia

Salib telah digenapi. Kabar Baik telah dinyatakan. Umat manusia telah mendengar kabar bahagia itu. Hukum Allah telah dituliskan dalam hati manusia. Simbol salib telah terpatri di setiap hidup manusia. Semua orang telah menerimanya. Tidak memandang bangsa dan bahasa. Semuanya telah menerima kasih Allah yang disuarakan dengan bahasa kasih. Saliblah bahasa kasih Allah itu.
Kayu salib tegak menyatakan hubungan manusia dengan Allah:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”
(Matius 22:37, Markus 12:30)

Kayu salib mendatar menyatakah hubungan manusia dengan sesamanya:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
(Matius 22:39b, Markus 12:31a)


Jangan abaikan seruan kasih abadi Allah. Hidup kita sangat berarti. Allah telah menjembatani bumi dengan langit melalui karya keselamatan abadi yang telah digenapi oleh Yesus Kristus, Putera-Nya yang setia. Betapa besarnya kasih Allah.

About this entry

Poskan Komentar

 

About me | Author Contact | Powered By holy of christ | © Copyright  2008