PERJANJIAN KASIH SETIA DAN ABADI ALLAH

Bacaan: Yesaya 55:1-555:1.
Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! 55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. 55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; engarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. 55:4 Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa; 55:5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau.
Bacaan ini mengingatkan saya pada mereka korban lumpur lapindo. Mereka yang berada dalam situasi tak berdaya. Mereka yang haus akan harapan di tengah ketiadaan harapan. Mereka yang merindukan kebenaran di tengah ketiadaan kepastian hukum. Mereka yang menjerit minta tolong di tengah hiruk para pemimpin dan wakil rakyat yang sedang bertengkar memikirkan kepentingan diri mereka sendiri dan tak ada solusi bagi orang-orang yang menderita.
Yesaya mengawali pasal ini dengan seruan kepada mereka yang haus. Disaat musim hujan seperti ini dengan banjir dan tanah longsor yang mendatangkan musibah dan kematian, kekeringan justru bukan masalah bagi kita. Tak ada istilah kehausan akibat kekeringan.
Namun bagi orang Israel di zaman perjanjian lama, air dan kekeringan merupakan hantu yang menakutkan. Kekeringan bukan sekedar masalah tetapi itu adalah bagian dari kutukan perjanjian. Setelah Israel mengadakan perjanjian dengan Tuhan, Musa memperingati mereka akan akibat ketidaktaatan mereka. Dalam Ulangan 28:15 Musa memperingati mereka sbb: 28:15 . "Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau;
Tanah Israel memiliki Sungai Yordan di bagian timur negeri itu. Namun daerahnya yang bergunung-gunung menyulitkan orang mendapatkan airnya .
Jadi dari mana mereka mendapatkan air mereka? Mereka menengadah ke langit, kepada Allah yang dapat memberikan hujan, menumbuhkan tumbuhan dan memberikan hasil panen yang berlimpah. Namun itu terjadi kalau mereka tetap taat, tetapi bila mereka tidak mentaati perjanjian mereka dengan Tuhan, maka tak ada hujan bagi mereka sehingga terjadi kelaparan. Hal ini dapat kita baca dalam kitab Ruth, akibat kejahatan Israel, Allah mendatangkan kekeringan dan kelaparan di Israel. Hal yang sama terjadi pada zaman nabi Elia dan raja Ahab (1 Raja-Raja 17), hujan tidak turun karena dosa penyembahan mereka kepada baal.
Makanan dan minuman adalah kebutuhan dasar manusia. Manusia butuh makan dan minum agar hidup. Oleh karena itu Tuhan sering berfirman menggunakan kata kiasan makanan dan minuman untuk menyadarkan umatNya. Firman ini disampaikan Yesaya kepada umat Israel yang ada dalam pembuangan di Babel, mereka yang sedang berada dalam kelaparan dan kehausan spiritual, mereka yang kehilangan hubungan dengan Tuhan. Jiwa-jiwa yang lapar dan dahaga, yang merindukan kelepasan dari Tuhan.
Keadaan mereka sama seperti kata Sang Pemazmur dalam Mazmur 42:2-4 : Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 42:3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 42:4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
Bapak, Ibu saudara sekalian. Ada saat-saat dalam hidup kita dimana kita mengalami kekeringan spiritual, segala sesuatu dalam hidup kita seperti pecah dan hancur berantakan. Dalam saat seperti itu ada suatu kerinduan mendalam akan keterhubungan dengan kekuatan yang lebih besar dan berkuasa, sesuatu yang jauh lebih bijaksana dari kemampuan kita, sesuatu yang lebih superior dari realitas kita. Kita haus akan hubungan dengan Pencipta kita, bagaikan seorang pengelana mencari tempat berteduh, tempat beristirahat bagi jiwanya yang letih dan lesu.
Namun jiwa yang lapar dan haus tak menemukan apa yang diinginkannya, tak menemukan kepuasan dari apa yang dicarinya. Itulah yang dirasakan oleh orang Israel dalam pembuangan mereka di Babel. Seruan Yesaya menunjukkan kekeringan dan kelaparan spriritual mereka, mereka bagaikan hidup di tanah yang gersang dan kering.Apakah anda pernah mengalami perasaaan putus asa mencari Tuhan? Apakah hidup anda seperti tanah kering yang haus akan air? Dimana harapan adalah sesuatu yang anda tidak miliki? Siapapun anda, darimanapun anda datang, kemanapun anda pergi dan alami selalu ada kekosongan atau kehampaan dalam hati anda yang tak dapat dihilangkan.
Nabi Yesaya menyerukan panggilan Tuhan kepada semua yang haus untuk datang kepada sumber air hidup. Sama seperti Yesus berkata dalam Matius 11:28 ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Kepada sang perempuan Samaria, Yesus mengatakan dalam Yohanes 4:13-14 : "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
Allah memanggil kita untuk datang kepadaNya, tetapi kita sering lebih menguatirkan biaya-biaya yang harus kita tanggung. ” Bersekutu dengan Tuhan akan membebani waktu saya yang terbatas. ”Bersekutu dengan Tuhan mengurangi kesempatan saya untuk bersenang-senang.” Bersekutu dengan Tuhan akan menjauhkan saya dari teman-teman. Saya malu dilihat sok suci.” Bersekutu dengan Tuhan akan menguras sebagian dari pendapatan atau kekayaan saya.”
Apakah kita lebih menguatirkan akan harga yang harus kita tanggung untuk persekutuan dengan Allah dan bersedia mengorbankan keselamatan kekal yang ditawarkan kepada kita dengan cuma-Cuma?
Kalau itu yang ada dalam pikiran kita, maka kita salah. Tuhan menyatakan bahwa tak ada harga yang harus kita bayar. Dia berkata dalam ayat 1, ”hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!
Persekutuan dengan Tuhan justru memberikan kelimpahan dalam hidup kita. Allah mengundang kita untuk datang makan dan minum dari Roti dan Air Hidup gratis. Ia mengundang kita untuk menerima segala sesuatu dari padanya tanpa uang. Pada ayat ke-2 dikatakan mengapa kita harus membelanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti dan upah jerih payah kita kepada sesuatu yang tidak mengenyangkan? Allah menawarkan segalanya secara cuma-cuma, untuk memuaskan rasa lapar dan haus kita. Mengapa kita harus membuang-buang waktu, tenaga dan uang untuk sesuatu yang bisa kita dapatkan secara gratis dari Tuhan? Mengapa kita harus bersusah paya untuk sesuatu di luar Tuhan yang tak dapat memuaskan kita?
Tuhan tidak membutuhkan uang kita. Uang tak ada artinya bagi Tuhan. Kita tidak dapat menemukan Tuhan menggunakan kemampuan kita, uang, kekayaan atau kehormatan kita. Tak ada sesuatu yang ada pada kita yang dapat dipakai untuk membeli Tuhan. Kekayaan, harta, kepandaian, atau kekuasaan kita sebesar apapun juga tak akan dapat menggantikan Tuhan.
Mungkin ada ketika dimana kita memandang keluarga, isteri/suami dan anak-anak, dan kita berpikir kita telah menemukan kepuasan. Mungkin ada ketika dimana kita memandang sukses kita dan berpikir kita telah menemukan kepuasan. Tapi itu semua adalah kepuasan sementara. Ketika hari berganti kita akan menemukan diri kita terperangkap kembali dalam rasa lapar dan haus akan sesuatu yang lain. Karena tak ada sesuatu dalam dunia ini yang dapat memuaskan rasa lapar dan haus kita, selalu ada kekosongan dan kehampaan dalam hati kita. Kekosongan itu hanya dapat diisi melalui hubungan kita dengan Tuhan.
Tuhan telah menciptakan manusia dalam keterikatan dengan Dia, sehingga ketika ikatan itu putus akan ada celah, akan ada kekosongan, akan ada kehampaan, kegetiran, kekeringan dalam diri kita akibat kehilangan mata air yang memberikan kelegaan dan kedamaian dalam diri kita.
Apa yang terbaik dari dunia ini hanya dapat memberikan kita kepuasan sementara yang akan berakhir dengan kegetiran, kekecewaan, kecemasan, tragedi dan kematian. Hanya Allah yang dapat memberikan kita kedamaian hidup di dunia dan di surga.
Banyak orang memburu-buru kekayaan, kekuasaan dan kehormatan yang mereka pikir akan dapat memberikan kepada mereka kenyamanan atau kepuasan namun yang mereka temukan pada akhirnya adalah kehidupan yang penuh dengan kekeringan, rumah tangga yang cerai berai, hidup yang tak merasa damai, dan ada yang berakhir dalam penjara dan kematian yang tragis.
Yesaya menekankan kepada orang-orang Israel yang dalam kehausan dan kelaparan sipiritual bahwa sebelum mereka dapat minum dan makan makanan Tuhan mereka harus mendengar dengan baik. Pada ayat 2 dan 3 dikatakan: ”Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. 55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.
Yesaya menekankan bahwa mereka harus mendengar. Ia menggunakan kata mendengar sampai tiga kali. Mengapa? Ya karena cara memakan makanan yang berasal dari Tuhan bukan dengan membayar, atau bekerja, tetapi dengan mendengar. Untuk datang kepada Tuhan yang memberikan kepuasan, kedamaian bagi jiwa kita yang haus dan lapar adalah dengan mendengar Dia. Kita tidak dapat datang kepada Tuhan kalau kita tidak mau mendengar Dia. Kita tidak akan dapat memakan makanan dariNya, FirmanNya, kalau kita tidak mau mendengar. Dan kalau kita tidak mau mendengar, maka kita tidak akan hidup. Dengarkanlah maka kita akan hidup (ayat 3)
Mengapa begitu penting sekali untuk mendengar? Kita harus mendengar karena Tuhan memberikan roti dan minum kekal ini, keselamatan kekal ini, dalam suatu perjanjian. Perjanjian ini berbeda dengan Hukum Taurat yang telah diturunkan digunung Sinai dengan nenek moyang Israel. Ketika Tuhan memberikan perjanjian Hukum Taurat kepada Israel, Dia meminta mereka untuk mendengar dan menurutinya. Dalam Ulangan 6:3 dikatakan : “Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. “
Tetapi perjanjian makanan dan minuman yang Tuhan tawarkan melalui Yesaya dalam bacaan hari ini bukan makanan yang dapat dibeli dengan ketaatan. Karena kalau kita mendengar dan mencoba membeli makanan ini dengan ketaatan kita, kita tidak mendengar perjanjian itu dengan benar. Karena ini adalah suatu Perjanjian Baru.
Perjanjian yang disampaikan Yesaya adalah suatu perjanjian baru karena ia mengatakan dalam kata ”hendak” yaitu dalam ayat 3: ” Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. “. Kata hendak disini menunjukkan masa akan datang. Perjanjian akan datang yang akan dibuat Allah dengan manusia akan bersifat abadi. Dan perjanjian itu adalah perjanjian kasih setia yang berbeda dengan perjanjian hukuman atau kutukan seperti Hukum Taurat yang diturunkan melalui Musa. Perjanjian Hukum Taurat berakhir dengan kehancuran Jerusalem dan pembuangan mereka di Babel. Karena perjanjian itu menekankan pada ketaatan manusia, manusia yang berdosa yang ternyata tak mampu menepati perjanjian tsb.
Perjanjian akan datang adalah suatu perjanjian kasih setia, suatu perjanjian kekal yang telah dijanjikan Tuhan kepada Daud. Ketika Tuhan berjanji kepada Daud, perjanjian itu belum terjadi. Ketika Yesaya berkata-kata, perjanjian itu belum diturunkan. Tuhan berjanji kepada Daud bahwa melalui keturunannya akan datang perjanjian kasih setia yang bersifat kekal.
Apa yang Tuhan janjikan kepada Daud. Kita dapat membaca dalam 2 Samuel 7:12-16: Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. 7:13 Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. 7:15 Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. 7:16 Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."
Yesaya tidak membicarakan suatu perjanjian yang tergantung pada ketaatan kita, tetapi perjanjian yang datang melalui keturunan Daud itu adalah perjanjian kasih. Anak Daud itu yang akan membayar dan menangung perjanjian tersebut, Ia yang membayar harganya sehingga kita dapat menikmati makanan dan minuman itu secara gratis. Ia yang akan memuaskan jiwa kita yang lapar dan dahaga.
Ketika Yesaya menyampaikan seruan ini, Ia sedang memandang ke masa depan kepada tawaran makan dan minuman dari Tubuh Kristus. Yesus ketika mengadakan perjamuan malam terakhir mengatakan kepada murid-muridnya, ”Inilah tubuhKu dan darahKu yang dicurahkan untuk kamu.” Yesus telah menyerahkan tubuh darn darahNya untuk memuaskan rasa lapar dan haus kita agar kita dapat datang ke dalam meja perjamuan dengan gratis.
Dalam ayat 4 Tuhan membuat Yesus sebagai saksi: 55:4 Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa;
Saksi seperti apa? Yesus adalah saksi perjanjian Allah dengan manusia. Yesus adalah jaminan Allah untuk menolong manusia menepati janji perjanjian itu. Yesaya menggunakan kata saksi dan penjamin ini dalam Yesaya 19:20: Itu akan menjadi tanda kesaksian bagi TUHAN semesta alam di tanah Mesir: apabila mereka berseru kepada TUHAN oleh karena orang-orang penindas, maka Ia akan mengirim seorang juruselamat kepada mereka, yang akan berjuang dan akan melepaskan mereka.Yesus penjamin seluruh pemenuhan isi perjanjian dengan Allah. Karena Dia yang telah memenuhi isi perjanjian itu kepada Allah dengan sempurna, sehingga melalui Dia kita diselamatkan. Dia telah menepati perjanjian itu di kayu salib, tubuhnya dikoyakkan, darahnya dicurahkan agar siapa yang mau datang dan percaya kepada Dia, akan menerima kehidupan kekal.
Dalam masa-masa prapaskah ini, kita merenungkan dan menghayati pengorbanan Yesus di kayu salib. Dia adalah korban Allah sebagai akibat kutukan pelanggaran perjanjian Allah dengan Adam dan Hawa. Akibat pelanggaran, manusia menerima kutukan Allah yaitu kematian, dan hanya melalui kematian anak domba Allah yang tak berdosa, kita dipulihkan menjadi anak-anak Allah kembali. Hubungan yang terputus telah dipulihkan. Hanya melalui Yesus kita diselamatkan. Yesus yang meremukkan kepala si Ular Iblis. Hanya melalui Dia manusia dapat datang kepada Allah kembali.
Karena itu sebagai hamba Yesus Kristus, kami memberitakan bahwa pengampunan dosa itu telah berlaku, dan barangsiapa dengan sungguh-sunggh mau datang menerima undangan ini, pemberitaan ini, dan mengaku dosa-dosanya dengan tulus ikhlas di hadapan Tuhan, serta menerima baptisan dalam nama Bapa, Putra dan Rohkudus, ia akan diselamatkan.Dalam ayat 5 dikatakan: 55:5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau.
Melalui Yesus, seluruh bangsa-bangsa diselamatkan. Kita adalah orang Indonesia, bukanlah orang Yahudi, kita bukan termasuk dalam keturunan Abraham secara langsung, namun kita ikut diselamatkan melalui perjanjian baru ini. Kita adalah bangsa-bangsa dari seluruh pernjuru dunia, yang ikut menerima keselamatan Allah. Itu adalah perjanjian baru Allah dengan manusia.
Bila anda saat ini sedang memiliki beban berat, masalah dalam hidup anda. Saya mengajak anda untuk datang kepada Yesus. Semua kita yang letih dan lesu yang memikul beban berat dalam hidup kita, curahkan semua keluh kesah anda, dan mohonlah pertolongannya, karena ia penuh kasih dan perhatian. Ia tidak akan mengecewakan kita. Ia adalah Tuhan yang setia dan mengasihi kita. Amin

About this entry

Poskan Komentar

 

About me | Author Contact | Powered By holy of christ | © Copyright  2008