7 PERKATAAN YESUS DI KAYU SALIB

Moment perayaan paskah merupakan kesempatan yang sangat baik untuk kita merenungkan dan mensyukuri pengorbanan yang telah di lakukan Kristus di atas kayu salib. Bagi kita inilah moment yang terpenting melebihi apapun juga, seperti hari ulang tahun kita ataupun hari ulang tahun pernikahan kita (Bagi yang udah nikah), kenapa paskah bisa sepenting itu? karena di hari kematian dan kebangkitan-Nya lah hidup kita sesungguhnya dilahirkan.

Mumpung sekarang masih moment paskah dalam tulisan kali ini saya ingin sekali menyajikan tulisan yang masih bertemakan paskah yaitu perkataan-perkataan Tuhan Yesus di kayu salib. Alkitab mencatat ada 7 seruaan yang Tuhan Yesus ucapkan di atas kayu salib. Tentunya kalimat-kalimat yang di ucapkan-Nya di detik-detik menjelang kematian-Nya merupakan perkataan yang mengandung pesan berharga khusus bagi kita. Apa aja yang Tuhan Yesus ucapkan yuk kita lihat bersama.

1. Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. (Lukas 23:34)

Seruan pertama yang diucapkan-Nya adalah pengampunan. Ucapan yang rasanya enggak masuk akal untuk di ucapkan oleh seorang manusia yang tengah di aniaya diluar batas prikemanusiaan. Selain menunjukan dan karakter sejati Yesus yang luar biasa, sebenarnya ini juga sekaligus membuktikan bahwa Yesus bukanlah manusia biasa. Mana ada orang yang sudah diambang kematian, namun masih memohonkan pengampunan bagi orang yang menganiaya dirinya. Doa pengampunan ini menunjukan misi Yesus ke dalam dunia ini, yaitu memperdamaikan kembali manusia dengan Bapa di Sorga.

So, dalam perayaan paskah ini, siapakah orang-orang yang perlu mendapatkan pengampunan kita? mari doakan untuk orang-orang yang pernah menyakiti hati kita. Bapa sudah bersedia mengampuni kita. Dia ingin kita seperti diri-Nya dengan mengampuni sesama kita.

2. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Lukas 23:43)

Kepada siapakah kalimat itu ditujukan? Yup, kepada salah seorang penjahat yang juga disalib di sebelah-Nya. Yesus memberikan pengampunan kepadanya bahkan kehidupan kekal. Sesuatu yang sama sekali enggak pantas untuk orang seperti dirinya. Sepanjang hidupnya dia sudah berbuat jahat. Bahkan Matius 27:44 menyebutkan bahwa semula orang itupun ikut mencela Yesus. Tapi ketika dia menyadari siapa Yesus yang disalibkan disebelahnya itu, maka ia pun beriman kepada Kristus.

Apa yang diucapkan Tuhan Yesus itu membuktikan esensi terpenting kekristenan yaitu keselamatan itu merupakan Anugrah. Bukan karena perbuatan kita, bukan karena kita sudah di baptis, bukan karena aktif pelayanan, bukan karena apapun usaha manusia. Melainkan hanya oleh karena pemberian Allah semata. Sola Gratia!. Ini bukan berati kita enggak perlu rajin berdoa, baca FirTu, melayani ato berbuat baik lainnya. Kalo sekarang kita melakukannya, itu bukanlah untuk mendapatkan keselamatan-Nya melainkan karena rasa syukur dan ketaatan kita kepada-Nya.

3. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada Ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yohanes 19:26-27)

Yesus bukanlah menempatkan diri-Nya sebagai anak, melainkan sebagai pencipta manusia. Perintah-Nya itu menunjukan kepada hubungan vertical antara Tuhan dan manusia. Namun Ia juga menjalankan perintah Taurat sebagai manusia yang menghormati orang tua-Nya. Yesus memikirkan pemeliharaan Maria di hari tuanya. Yesus adalah Allah yang peduli terhadap umat yang dikasihi-Nya. Ia selalu memelihara kita sampai pada kesudahan.

4. “Eli, Eli lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46)

Nah perkataan inilah yang sering salah artikan oleh orang-orang diluar Kristus, bagaimana mungkin Tuhan Yesus yang adalah Allah sendiri, bisa di tinggalkan oleh Allah. Meski begitu coba kita pahami saat dimana manusia di tinggalkan Allah, yaitu saat manusia jatuh kedalam dosa. ketika Kristus ditinggalkan oleh Allah itu artinya Dia tengah menggantikan kita yang seharusnya di tinggalkan Allah. Betapa mengerikannya dan entah bagaiman rasanya di tinggalkan Allah.

Saat itu Yesus merasakan penderitaan yang tidak akan pernah bisa kita bayangkan. Dia mengambil alih hukuman itu sehingga kita bisa dekat kembali dengan Bapa, seperti yang dikatakan dalam Galatia 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib.

Renungkanlah betapa dahsyatnya Tuhan mengasihi kita betapa hebat kasih-Nya sehingga Ia melakukan semuanya ini demi kamu dan saya.

5. “Aku haus!” (Yohanes 19:28)

Perkataan ini mengandung paradoks dengan apa yang pernah Yesus katakan mengenai diri-Nya. Bukankah Dia yang pernah mengatakan kepada perempuan Samaria bahwa Dia adalah mata air kehidupan. Inilah saatnya Mazmur 22:16 digenapi. Yesus mengalami kelelahan fisik yang luar biasa. Lapar, luka sakit kesulitan bernafas, keletihan, darah yang bercucuran dan sebagainya sudah mencapai puncaknya. Yesus adalah 100% manusia dan juga 100% Allah. Dalam kemanusiaan-Nya, dia sudah pernah merasakan haus pada hari itu. karena Dia pernah haus, maka sesungguhnya kita yang percaya kepada-Nya tidak perlu haus untuk selama-lamanya karena Dia sudah menanggung kehausan itu.

6. “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya”. (Yohanes 19:30)

Perkataan ini menyatakan bahwa segala nubuat para nabi sejak zaman dulu, segala karya Yesus di bumi ini, misi yang diemban Anak Manusia sudah digenapi. Dalam perkataan itulah segala pengharapan iman orang percaya tertuju.

Kita patut bangga memiliki Allah yang bukan saja maha kuasa namun juga sangat mengasihi kita. Allah yang Maha Adil dan konsisten terhadap segala janji-Nya. Haleluya!

7. “Ya Bapa, kedalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46)

Yesus menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa. Ini berarti Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Yesus tidak membiarkan misi-Nya dibengkokan oleh apapun, bahkan dalam pencobaan yang dialami-Nya. Dia menyerahkan segalanya kedalam tangan Allah.

So, kedalam tangan siapakah kita menyerahkan diri kita? apakah kita membiarkan ego dan keinginan kita sendiri yang mengendalikan tindakan dan keputusan kita? apakah kita menyerahkan diri kita pada orang lain? Atokah kita miliki tujuan hidup kita sendiri? Beranikah kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Allah pencipta kita? bersediakah kita mengikuti kehendak Bapa sebagai yang terbaik dalam hidup kita?

Yesus sudah memberi kita contoh penyerahan diri yang sesungguhnya. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama diatas segala nama (Filipi 2:9). Hari ini, kalo kita berani menyerahkan kehendak kita kepada kehendak Allah, sesungguhnya justru kita sedang membuat keputusan terbaik sepanjang hidup kita.

Melalui perenungan tentang 7 perkataan terakhir Tuhan Yesus ini kiranya kita tersadarkan akan betapa besarnya kasih Allah kepada kita. Hanya satu alasan mengapa Dia rela melakukan semuanya itu, and His reason was you!

About this entry

Poskan Komentar

 

About me | Author Contact | Powered By holy of christ | © Copyright  2008