Menemukan Tuhan dalam Hidupku

Yesus rupanya sungguh-sungguh Tuhan dan penyelamat; Dialah sumber kebahagiaan, damai dan sukacita. Sungguh Yesus betul-betul hidup dan Dia adalah Allah sekaligus Tuhan kita. Itulah awal pengakuan saya, ketika menemukan sosok Yesus sebagai Tuhan dalam hidup saya, yang telah saya tinggalkan dan akhirnya Dia sendiri melepaskan saya dari turunan kuasa kegelapan dari orang tua dan membawa saya mengenal Dia sebagai Tuhan dan penyelamatku.

Keluarga kami mempunyai dua kepercayaan yang berbeda, ibu saya Katolik dan papa bukan Katolik. Papa dan ibu menjalankan iman kepercayaannya masing-masing. Dalam keluarga kami, sudah sejak awal ada perjanjian, apabila yang lahir laki-laki harus mengikuti kepercayaan papa, apabila wanita harus ikut ibu, sehingga saya dari kecil dibabtis secara Katolik, demikian juga adik saya yang perempuan. Keluarga kami yang moderat itu diberi kebebasan kalau sudah dewasa, dengan perjanjian walaupun saya sejak kecil Katolik, tetapi kalau saya sudah dewasa saya berhak menentukan jalan hidup masing-masing termasuk agama apa yang dipilih.

Dalam perjalan waktu, dengan segala liku-liku hidup, karena saya tidak tahu banyak agama Katolik yang sejak kecil saya dibabtis dan saya imani, pada waktu saya berumur 19 tahun saya masuk agama non Kristen. Kurang lebih tujuh tahun saya beragama non Kristen. Walaupun saya dekat dengan Tuhan tetapi tidak menemukan sukacita, damai dan kebahagiaan di dalam agama yang saya anut itu. Dalam hati saya menginginkan damai dan kebahagian sehingga saya akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan satu kelompok meditasi di Jakarta, tetapi saya tidak menemukan kebahagian dan malahan menemukan dan mengalami kekecewaan. Saya menjadi putus asa karena ternyata yang selama ini tanpa saya sadari kuasa kegelapan juga berkerja dalam diri saya.

Namun, Tuhan tidak membiarkan saya. Dia menuntun saya ke suatu tempat, di mana banyak terjadi pertobatan dan penyembuhan, yaitu Lembah Karmel. Di sini saya diperkenalkan kembali dengan seorang Kekasihku yang telah lama menunggu dan menanti saya setelah saya tinggalkan beberapa tahun. Dia adalah Tuhan Yesus. Setelah mengenal Yesus yang saya temukan, Dia menyembuhkan dan membebaskan saya, dan yang saya rasakan adalah sukacita, damai, dan kebahagiaan yang sungguh luar biasa, yang belum pernah saya alami selama hidupku. Hal itu tidak hanya saya temukan dalam doa, tetapi dalam keseharian saya, Dia selalu menyertai saya.


Memang selama masa remaja dan dewasa, saya selalu memakai pikiran dan logika. Banyak membaca buku dan bahkan saya juga ikut perkumpulan meditasi yang umum. Saya berpikir bila saya meditasi, saya bisa merasakan dekat dengan Tuhan dalam keheningan batin. Akan tetapi, selama saya ikut meditasi itu selalu saja ada keraguan, ketakutan, dan kecemasan. Dan masalah selalu datang bertubi-tubi terutama masalah jodoh dan juga masalah dalam keluarga. Semua permasalahan itu membuat saya frustasi, sampai saya merasa apa gunanya saya meneruskan hidup ini. Walaupun saya hidup, saya tidak akan merasakan hidup bahagia dan hidup damai, karena yang saya alami hanyalah susah, menderita dan segala macam beban batin lainnya.

Suatu saat paman saya memperkenalkan Lembah Karmel. Dia sebenarnya mengajak ibu, tetapi akhirnya mengajak saya pula untuk menemani ibu. Awalnya saya malas, tetapi saya ikut-ikutan saja, karena agama saya lain dan tidak percaya lagi kepada Yesus. Saya melihat Yesus itu hanya tokoh biasa sama seperti tokoh agama lainnya. Saya selalu mengunakan logika dan pikiran. Saya tahu Yesus itu adalah manusia yang istimewa seperti nabi-nabi yang lain. Dia hanyalah utusan Tuhan dan bukan Tuhan, itulah persepsi pikiran awal saya tentang Yesus yang sudah saya tolak dan tinggalkan.

Suatu ketika, saya mengantar ibu saya lagi untuk retret di Lembah Karmel, karena ibu tidak mempunyai teman saya maka saya menemaninya. Waktu itu beban saya begitu banyak dan berat sekali, hati saya selalu gelisah, tidak tenang, cemas dan takut. Akhirnya saya pasrah karena tidak ada acara lain, dan mau pergi ke mana lagi. Saya hanya mendengar saja semua acara retret itu, walaupun hati dan batin tidak tenang saat itu.

Entah bagaimana Tuhan mengubah hati saya, rasanya ada dorongan yang kuat untuk ikut terus acara retret itu. Suatu saat saya bertanya kepada seorang frater. Selama ikut Doa Yesus dan Adorasi saya selalu mengalami hal-hal di luar nalar dan kemampuan saya, seperti ada getaran yang kuat di dalam tubuh saya, dan ada yang menolak dari belakang kuat sekali. Saya begitu tersentuh hingga menangis karena dosa-dosa saya, dan merasakan ketakutan yang hebat seperti ada yang mengejar-ngejar saya. Kadang saya mendengar koor yang lembut dan indah pada waktu doa Yesus, namun hanya saya sendiri yang mendengar, karena saya tanya-tanya dengan yang lain mereka tidak mendengar apa-apa. Semuanya membuat saya bigung, apa yang terjadi pada saya? Ada apa dengan saya ini?


Saya akhirnya konseling dengan seorang frater, dan saya katakan dengan frater itu bahwa saya sudah menyangkal Yesus, dan saya tidak percaya bahwa Yesus itu Tuhan. Selama ini saya menganggap Dia hanya utusan Tuhan dan Tuhan berkarya melalui Dia. Ya saya akui itu, tetapi Dia bukan Tuhan, bagaimana mungkin manusia mengakui diri-Nya Tuhan. Betapa sombongnya saya saat itu sampai berpikir demikian terhadap Yesus!

Frater itu hanya mengatakan, sudah engkau ikut saja semua acara retret ini. Akhirnya baru hati saya terbuka setelah pencurahan Roh Kudus dan saya jatuh. Dalam retret itu saya mengalami kedamaian dan ketenangan yang tidak pernah saya temukan sebelumnya.

Setelah retret itu saya mencoba terus datang ke Lembah Karmel. Setelah sekian kali saya meraskan bahwa kebingungan yang saya alami itu hilang dan saya merasakan serta menemukan damai dan sukacita serta beban saya hilang, akhirnya saya minta ampun kepada Tuhan dan mengakui dengan segenap hati saya bahwa Yesus itu sungguh-sungguh Tuhan. Dia adalah Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan saya dan umat manusia. Akhirnya saya kembali mengakui Yesus sebagai Tuhan dan penyelamatku, saya sungguh-sungguh bertobat dan kembali kepada iman Katolik yang dulu saya tinggalkan.

Namun, ketenangan tidak lenyap begitu saja. Suatu ketika saya bertemu dengan seorang bapak yang juga mengenal keluarga saya. Bapak ini mengatakan bahwa ketidaktenangan yang saya alami, mungkin ada kaitannya dengan leluhur, sebab ayah saya banyak mempunyai keris-keris pusaka. Bapak tadi mengatakan supaya saya minta doa pembebasan dan barang-barang milik ayah tadi juga supaya di doakan.

Saya datang kepada seorang frater di Lembah karmel untuk doa pembebasan. Sebelumnya saya ragu-ragu mau pembebasan apa, karena selama hidup saya tidak pernah belajar ilmu apa-apa. Cuma hanya ayah saya saja yang memiliki barang-barang pusaka, dan bukan saya. Ketika didoakan saya hanya pasrah saja, ternyata ketika saya didoakan terjadi manisfestasi. Waktu didoakan saya teriak-teriak dan mau lari, menjerit-jerit sampai muntah, sampai saya tidak kuat. Akhirnya saya tidak kuat dan lemas. Setelah saya sadar, saya kaget dan malu sendiri, karena kuasa-kuasa gelap itu ada dalam diri saya dan bisa menurun kepada saya.


Setelah doa pembebasan pertama saya merasa sudah sedikit tenang. Melihat ada tanda-tanda itu, akhirnya saya putuskan tiap Minggu datang ke Lembah Karmel untuk minta didoakan, sebab setelah doa pembebasan pertama itu, saya dihantui oleh mimpi buruk terus menerus, sepertinya saya dikejar-kejar oleh sesuatu, dan saya dalam kesehariannya seperti orang linglung. Waktu itu saya hampir menyerah, karena sebelum doa pembebasan saya tenang-tenang saja tidak ada masalah, tetapi habis didoakan pembebasan mengapa jadi linglung? Rasanya saya tidak kuat. Akan tetapi, frater yang mendoakan saya mengatakan, “Kamu jangan menyerah, kamu harus lawan dengan doa-doa dan jangan patah semangat, kami di sini akan bantu kamu dalam doa.”

Puji Tuhan, ketika saya ikut Retret Penyembuhan Batin, dalam doa Adorasi, ada nubuat yang mengatakan, “Ada seorang yang dipatahkan dan dibebaskan dari kutuk keturunan.” Ketika nubuat itu diucapkan, seluruh tubuh saya panas sekali dan saya percaya saat itu kuasa-kuasa gelap dalam diriku telah dipatahkan. Puji Tuhan, sekarang saya hidup dalam sukacita setelah mengalami pembebasan dari semua kuasa gelap itu. Mimpi-mimpi buruk yang sering terjadi, menjadi hilang.

Kebahagian, sukacita dan damai, itu yang saya temukan setelah mengenal Yesus. Banyak hal yang berubah dalam diri saya, dalam sikap saya, dalam cara berpikir saya dan beban saya terasa terangkat. Bagi saya itu sangat luar biasa.

Saya dulu sempat berpikir mau menghakiri hidup saya dengan bunuh diri. Sekarang setelah mengenal Yesus, saya berbalik arah dan bersyukur bisa kembali ke pangkuan-Nya. Persis seperti perumpamaan anak yang hilang, sayalah anak yang hilang itu. Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan, dan rasanya saya ingin mengabdikan hidup saya kepada Tuhan. Saya mohon selalu pada Tuhan apa rencana dan kehendak-Nya bagi saya selanjutnya.

Karunia terbesar yang saya rasakan adalah bahwa Yesus mau menerima saya kembali sebagai anak-Nya, yang berdosa ini, dan Dia mengampuni serta membebaskan saya. Dia juga memberikan damai, sukacita, dan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Semua itu berdampak besar sekali dalam kehidupan saya. Saya benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan Yesus. Saya selalu mohon kepada Tuhan supaya saya mampu untuk mengasihi Dia dalam hidup saya dan mencintai Dia di atas segala-galanya.


Selain Tuhan melepaskan saya dari kuasa kegelapan, Tuhan juga menyembuhkan luka-luka batin saya. Rupanya semuanya itu saling berkaitan. Sebelum disembuhkan dari luka-luka batin, saya sering kuatir yang berlebihan, takut tidak diterima di suatu lingkungan atau sesama. Saya takut ditolak oleh orang lain. Beberapa kali pacaran, saya ditolak oleh keluarga mereka. Rupanya itu merupakan akibat dari luka batin saya. Ketika ibu mengandung saya, ia tidak menginginkan saya lahir. Ibu sudah mau mengugurkan dengan obat jamu, karena belum siap untuk punya anak. Selain itu, ia tidak diterima di keluarga papa yang beda agama, itulah alasan ibu saya. Saya mengerti keputusan itu, tetapi Tuhan menginginkan saya lahir. Peristiwa ini memberikan dampak bagi diri saya secara mental. Dalam Retret Penyembuhan Batin akhirnya saya disembuhkan pada saat pembasuhan kaki, saya memaafkan ibu. Dan saya bersyukur atas semuanya itu. Rasa marah dan benci yang dulu sering terjadi terhadap ibu, melalui penyembuhan itu, hilang sama sekali. Ada rekonseliasi dengan ibu dan saya bisa menerima ibu apa adanya dan mengasihi dia apa adanya.

Sekali lagi saya bersyukur kepada Tuhan atas sukacita, damai, dan kebahagiaan yang saya alami setelah menemukan Tuhan Yesus di Lembah Karmel, sebab segala beban dan luka batin telah diangkat dan dilepaskan oleh-Nya. Ini bagi saya suatu karunia yang tidak bisa diganti dengan apapun juga, Tuhan itu sungguh-sungguh sayang dan sangat mengasihi saya.

Sekarang saya aktif melayani di Jakarta, khususnya dalam sekolah Evangelisasi. Saya rasa inilah rahmat Tuhan yang saya terima. Saya harus membalas kebaikan Tuhan itu dengan apa yang ada pada diri saya, dengan segala kemampuan dan talenta saya.


copy from : CARMEL OF ST. ELIJAHOnline

About this entry

Poskan Komentar

 

About me | Author Contact | Powered By holy of christ | © Copyright  2008